Tampilkan postingan dengan label Indonesia Underground. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Underground. Tampilkan semua postingan

24 Agustus 2013

Meski ada onak dan duri, di Nusantara metal bakal tetap lestari

Reporter : Ardyan Mohamad Sabtu, 24 Agustus 2013 14:02:00


Sumber




Meski ada onak dan duri, di Nusantara metal bakal tetap lestari
Musik metal mulai menurun pamornya pada awal abad 21. Dalam artian, rilisan fisik tak terlalu banyak muncul, meski dari segi aktivitas komunitas, jumlahnya cenderung stabil.

Samack, pengamat musik metal yang aktif di Malang, Jawa Timur, menyebut surutnya album metal, untungnya diimbangi intensitas konser pelaku musik cadas di daerah. "Kalau konser sejak tahun 2000-an meningkat, bahkan di Malang hampir tiap minggu ada gigs kecil," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Kamis (22/8).

Fanatisme penggemar metal yang kokoh terbentuk pada 1990-an, disinyalir menjadi salah satu biang kerok stagnasi skena. Setidaknya itu yang dialami Aditya Saputra, pelaku sekaligus penikmat metal asal Jakarta. Sebab, musik cadas ini jadi jalan di tempat, karena ada kaum-kaum puritan yang tidak suka perubahan dalam karya metal di Tanah Air.

"Terutama dalam inovasi karya. Gig-gig besar isinya cuma band-band yang itu lagi itu lagi. Kalaupun ada band baru ya dengan style genre yang gitu-gitu saja. Padahal di luar negeri perkembangan musik metal udah kemana-mana," keluhnya.

Internet, menjadi penyebab lain kemunduran metal dari segi penjualan fisik. Kemudahan mengunduh lagu yang disuka, walau sebetulnya ilegal, membuat kaset dan CD mati suri. Namun, "kemunduran" ini hanya berlaku untuk pihak yang ingin membisniskan metal dengan skala masif.

Bagi komunitas independen, kondisi sekarang malah lebih sehat. Sebab, hulu hingga hilir skena metal jelas alurnya.

"Kalau (1990-an) industrinya belum teraba, kalau sekarang ngerilis kelihatan yang beli berapa walau cuma 100 biji. Bikin merchandise laku, bisa konser, sekarang uangnya lebih banyak atau paling enggak dapat profit," ungkap Samack.

Internet pula, bagi Samack, yang menggerus level fanatisme di periode 2009 ke atas. Pendengar metal di pelbagai kota Indonesia justru semakin meluas segmennya. Sebelum abad 21, mustahil anak punk bersedia mendengar musik metal. Kini, bermunculan pula musisi metal yang mau melakukan inovasi dengan mencampur musiknya dengan genre lain.

"Anak metal sekarang suka Efek Rumah Kaca (band alternatif-red), post rock, sekarang lebih terbuka berani eksplor (musik lain) karena referensi lebih banyak, efek paling besar ya karena internet," ujarnya.

Saat ini, subgenre metal yang sedang naik pamor di Indonesia adalah sludge ataupun post-metal. Jenis musik metal itu, memberi ruang bagi eksplorasi bunyi, tak sekadar menggeber distorsi secepat dan sekencang mungkin seperti zaman kejayaan trash metal atau heavy metal pada 90-an.

SSSLOTHHH, Vallendusk, dan Ghaust, untuk menyebut beberapa nama, kini jadi raja baru, menyejajarkan diri dengan senior metal lokal macam Death Vomit atau Burgerkill.

Aditya percaya, semakin beragam pelaku musik metal yang tampil di panggung-panggung, maka dampaknya akan bagus bagi perkembangan musik ini di masa depan. "Gue setiap dateng ke gig metal berharapnya bisa dapet macam-macam rasa. Yang isinya band-band metal segar," tandasnya.

Riuh rendah lain skena metal Tanah Air adalah perpecahan kubu. Beberapa tahun terakhir, muncul aliran metal satu jari, sebuah tawaran konsep musik cadas bernuansa Islami yang diserukan Ombat, pentolan band Tengkorak.

Dalam beberapa kasus, aliran ini menyerukan agenda lebih politis, seperti penolakan invasi Israel di Palestina. Seringkali, penggemar musik metal biasa kerap berseteru dengan mereka.

Irfan Sembiring, musisi trash metal senior di Indonesia, tak mau ambil pusing dengan perseteruan aliran "satu jari" - melambangkan tauhid sekaligus sebutan bagi penikmat musik metal islami - dengan penggemar metal konvensional.

Pria yang saban hari berkeliling masjid untuk dakwah ini menyebut perkembangan metal ke daerah yang kini masif, lebih patut diapresiasi. Sebab, dakwah dan melakoni jalan hidup metal, merupakan dua hal berbeda.

"Dulu metal eksklusif, sekarang desa-desa, kecamatan, sudah ada basis metal. Soal metal satu jari, ya gini aja, dakwah kalau mengikuti cara nabi mendatangi orang, dari rumah ke rumah, bukan lewat musik," paparnya.

Tesis serupa diserukan Aditya. Dia berharap, aliran apapun, ideologis maupun tidak, idealnya bersatu demi perkembangan metal. "Di skena mustinya semuanya melebur. Enggak peduli dari latar belakang apapun. Dari yang relijius sampai penyembah tabung gas semuanya ya mustinya nyatu. Bersenang-senang bareng," serunya

Dengan segala onak dan duri tersebut, Samack yakin metal akan tetap lestari. Hanya saja, dia mengingatkan bahwa sejatinya, metal selalu merupakan musik dengan segmen pasar tertentu. Jangan dibayangkan album metal bakal laku jutaan keping seperti album pop.

Kuncinya, adalah anak muda. Selama jiwa muda yang ingin tawaran musik berbeda ada di negara ini, maka metal, dari aliran apapun, bakal selamanya tumbuh dan berkembang.

"Metal pasarnya masih ada, meskipun enggak pernah membesar, enggak akan mengecil juga. Karena musiknya cenderung keras, cocok buat anak muda, apalagi usia muda, ngerasanya harus ngedengerin musik yang lebih keras, masuknya di situ," ujar Samack yakin.

Pembajakan bikin metal bersemi di bumi pertiwi









Mohamad Soesilo merancang Blok M, kawasan pertokoan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebagai wilayah untuk aktivitas niaga murni. Murid pakar tata kota kesohor Thomas Karsten itu, barangkali tak membayangkan empat dekade kemudian, bukan cuma uang yang berputar di komplek tersebut, melainkan juga kebudayaan. Lebih tepatnya, peradaban musik curian.

Irfan Sembiring, gitaris dan pendiri grup musik trash metal legendaris, Rotor, ingat betul pada periode 1980-an Blok M jadi tujuan muda-mudi seantero Ibu Kota yang ingin mengetahui perkembangan musik dunia mutakhir.

Termasuk, musik-musik barat yang level kebisingannya tak lagi sekadar "ngak-ngik-ngok" bernama metal. Jauh lebih keras dari rock n roll yang disemai pertama kali di bumi pertiwi oleh God Bless atau AKA pada era 1970-an. Namun, patut dicatat, mayoritas kaset di Blok M ilegal lantaran hasil pembajakan.

Dari koleksi rock and roll kanon Barat seperti Rolling Stone dan Led Zeppelin yang dia lahap semasa SMP, hingga mulai naik kelas, menjadi tambah bising dan ekstrem, semua kasetnya didapatkan Irfan di Blok M.

Pria yang kini menekuni jalan hidup dakwah itu tidak paham bagaimana cara para pemilik toko di Blok M cepat sekali mengikuti perkembangan musik di Barat. Contohnya untuk kasus Iron Maiden, grup cadas asal Inggris, yang pada 1986 sedang panas-panasnya di blantika musik dunia, berkat album didapuk jadi puncak artistik gelombang musik metal dari Inggris.

"Album Iron Maiden yang "Somewhere in Time", enggak sampai sebulan keluar di Amerika Serikat, sudah dibajak, selang berapa minggu sudah ada yang mainin, udah ada yang meng-cover di panggung Pid Pub, Pondok Indah," ujar Irfan sambil tergelak saat menjelaskan masa awal perkembangan subkultur metal Indonesia kepada merdeka.com, Jumat (23/8).

Irfan menilai berkat Blok M, wawasan musik anak muda Indonesia tak ketinggalan dari pendengar asli di Amerika atau Eropa, walaupun media massa masa itu sama sekali tak memberi ruang bagi penggemar musik cadas.

"Jadi anak metal seharusnya berterima kasih pada para pembajak," sambungnya lagi, masih sambil terbahak.

Dari peredaran kaset-kaset musik cadas ilegal tersebut, publik Indonesia, termasuk Irfan, mengenal nama yang lebih gahar. Mulai dari Kreator, Sepultura, dan tentu saja, band terbesar dari subgenre trash, Metallica.

Rilisan fisik, khususnya kaset, yang masih jaya pada masa itu, turut membangun loyalitas pendengar musik pada figur-figur metal luar negeri. Karena harganya cukup mahal bahkan untuk kelas menengah sekalipun, banyak anak muda harus menabung sebelum mendengarkan musik yang mereka suka.

Hal ini dituturkan Samack, pendiri situs musik Apokalip sekaligus pengamat skena metal Tanah Air ini. "Format kaset itu otomatis lebih menyempitkan opsi. Dulu satu kaset bisa kita dengerin satu bulan sampai hafal."

Amal jariyah lebih kecil dalam persemaian metal, disumbangkan oleh segelintir media massa yang berani mengulas musik tak populer itu. Pada masa 80-an, Majalah Hai, terbitan Gramedia, dan Majalah Vista, bertindak nyeleneh, lantaran mewartakan perkembangan metal bagi pembaca Indonesia, meski tak dominan.

Baru pada 1990-an, nama besar Metallica yang mengobrak-abrik tangga lagu Billboard, membuat lebih banyak media lain melirik genre musik eksklusif ini.

"Metallica pas besar-besarnya udah di-publish media utama, selain Hai, radio membahas, MTV juga mulai masuk Indonesia," kata Samack.

Subkultur metal di kalangan anak muda, untuk Ibu Kota, semakin terbentuk setelah banyak anak muda nongkrong di Pid Pub, kafe kecil milik Tante Esther yang memberi ruang tampil anak-anak metal. Kebetulan, atribut fisik penggemar musik cadas mudah dikenali, sehingga ikatan solidaritas cepat terbentuk selain karena kesamaan tempat kongkow.

"Kalau elu enggak gondrong, enggak pakai long-sleeve, enggak dianggap (anak metal), ada sih yang masih cepak, tapi tetap enggak diakui," ungkap Irfan.

Pola identifikasi serupa juga muncul di wilayah lain, termasuk Kota Malang, tempat Samack tinggal sepanjang hidupnya. "Zaman-zaman itu, kita bisa nyari teman tongkrongan satu sekolah, ada anak yang pakai kaos Metallica, atau gondrong, pasti memiliki minat selera musik yang sama."

Memasuki masa 1990-an, metal semakin menjadi kultur anak muda. Di Jakarta, sedikit bergeser dari Blok M, yaitu di kawasan Bulungan, mulai muncul komunitas metal. Penggemar yang membeli rilisan fisik band-band tenar dunia, juga terdeteksi makin banyak.

Itu sebabnya, pengusaha Setiawan Djody berani mendatangkan Metallica ke Tanah Air. Sayang, represi Orde Baru, membuat superstar musik jarang datang ke Indonesia. Hal ini, disinyalir menyebabkan kedatangan James Hetfield, dan kawan-kawan pada 1993, menjadi pelampiasan pecinta musik dari aliran apapun. Bahkan, melebihi konser bintang trash metal Brasil, Sepultura, yang sebelumnya sudah mampir setahun sebelumnya.

"Gue ingat banget, pas ngebuka konser Metallica, di bagian depan ada yang goyang ala dangdut. Semua penggemar musik datang di konser itu, anak punk juga nonton. Ada satu mobil isinya 10 orang, yang punya tiket cuma satu, makanya akhirnya pada bakar-bakaran, pada saat itu haus hiburan sih," kenang Irfan soal tragedi konser Metallica di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, 20 tahun lalu.

Namun, insiden itu tak membuat metal surut. Tentunya berkat keberhasilan beberapa band masuk dapur rekaman, hal yang sebelumnya tak terbayangkan bisa dialami insan musik bising.

Sang pendobrak adalah Roxx yang berhasil rekaman single karena jawara festival rock. Grup speed metal ini, kata Irfan, dikenal publik pada awal 1990 paling jago meng-cover lagu-lagu Metallica.

Kesempatan mencicipi dapur rekaman label arus utama lantas diikuti grupnya sendiri, Rotor, yang berhasil merayu Label AIRO, untuk mengedarkan "Behind the 8th Ball" (1992). Baru kemudian, mantan band Irfan, Sucker Head, pada 1995, menyusul direkrut Aquarius Musikindo.

Dari hitung-hitungan kasar, album pertama Rotor laku 400.000 keping. "Yang bajakan dua kali lipatnya," imbuh Irfan menggambarkan potensi bisnis metal di Indonesia pada 1990-an.

Miris melihat banyak teman-teman metal tak dapat kesempatan rekaman, Irfan menggandeng sobat lamanya, Krisna Sadrach, pentolan Sucker Head, membentuk Rotorcorp. Label kecil, yang dananya semua didapatkan dari Musica Studio, label terkemuka pengusung musik pop.

Dirilislah kemudian seri Metalik Klinik, hingga 9 album, yang membantu memperbesar basis fans musik metal ke seluruh nusantara. Irfan menyebut, masalah musisi metal seangkatannya adalah tak pandai memasarkan diri.

"Kuncinya ke major label itu cuma gimana pinter ngomongnya, karena seri Metalik Klinik laku, Musica mau biayain terus,".

Paruh kedua 1990-an, band-band metal semakin rajin, bahkan bisa dibilang mencapai iklim paling sehat sepanjang sejarahnya di Indonesia. Samack mencatat meski kompilasi 'Metalik Klink' cukup berperan, gairah menegakkan bendera metal memang sedang menggebu-gebu jelang reformasi.

"Akhir 90-an, metal ramai-ramainya, kira-kira antara 1997 sampai 2002, enggak tahu kenapa, pada semangat semua (bikin album)," ujarnya.

Nama besar skena metal saat ini, seperti Betrayer, Death Vomit, Purgatory, dan Burgerkill, juga bersemai di era tersebut. Musik metal di Indonesia nantinya menyambut nasib yang berbeda di abad 21. Khususnya, akibat budaya internet yang mewabah. Namun, panen metal di masa kini, mustahil muncul, jika sebelumnya tak ada pembajakan yang menyemainya di bumi pertiwi.





Berdakwah lewat metal berkat buku orang nasrani

 

 

Wajahnya dihiasi janggut tak terlalu panjang, meski lebat. Dari kupluk warna hitam yang dia kenakan, tersembul warna putih menghiasi rambut cepaknya, menandakan usia tak lagi muda.

Sosok Irfan Sembiring yang mengenakan gamis panjang dari pundak hingga lutut warna cokelat, langsung mengucap salam, ketika kami bertemu di restoran cepat saji, dekat pusat perbelanjaan terbesar Cinere, Depok, Jawa Barat, selepas salat Jumat, (23/8). Dia ditemani dua kawan, bernama Syarief dan Rendra, berparas dan berbusana tak jauh beda.

"Mereka berdua juga dulunya anak metal loh, cuma sekarang sudah murtad saja," ujarnya sambil terkekeh kepada merdeka.com.

Bagi masyarakat awam, mereka bertiga lebih akrab disebut pengamal jamaah tabligh. Orang yang berdakwah dari desa ke desa, kampung ke kampung, biasanya berjalan kaki. Nyaris tak ada tanda bahwa dulu mereka menggeluti musik cadas.

Pria kelahiran Surabaya 2 Maret 1970 ini, dulu kerap berkeliling masjid seputaran Jakarta-Bogor. Namun, beberapa tahun belakangan, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdakwah di Cinere dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Irfan merupakan pendiri band trash metal, Rotor, yang legendaris di kancah musik keras Tanah Air. Band yang berdasarkan nama, diharapkan menghasilkan musik bising bagai baling-baling pesawat ini, merupakan buah karyanya selepas keluar dari Sucker Head, pionir musik metal Jakarta pada 1988.

Di masa jayanya, Rotor berhasil menjual ratusan ribu keping album. "Kami dulu raja dirajanya metal, orang pasti mengenal Rotor, paling enggak tahu namalah," ungkapnya.

Berbekal percaya diri tinggi, khususnya setelah sukses membuka konser Metallica pada 1993, Irfan bersama dua kawannya yakni Judapran dan Jodie, yang kini sudah almarhum mengadu nasib ke Amerika Serikat. Mereka bernazar harus jadi tenar seperti panutan mereka, Sepultura, asal Brasil yang sukses mendunia.

Semangat itu, kenang Irfan, langsung pudar saat melihat daftar musisi metal yang sudah rekaman di Kantor Pusat Billboard, di California. "Kalau saya tidak salah ingat, ada 6.000 band metal yang terdaftar sudah rekaman, itu baru California saja. Semuanya lebih unik, dan lebih keren dari Rotor."

Selama 1993-1995, karena seret manggung di Negeri Paman Sam, Irfan dan kawan-kawan terpaksa kerja serabutan. Saban setengah tahun mereka balik ke Indonesia, lantaran visa tak boleh diperpanjang di sana.

Sampai 1997, Rotor masih meramaikan kancah trash metal di Indonesia, total 4 album mereka hasilkan di bawah naungan pelbagai label rekaman. Menyerah dalam usaha menaklukkan Amerika, Irfan sempat banting setir jadi produser, ketika merancang kompilasi "Metalik Klinik" bersama sobat lamanya di Sucker Head, Krisna Sadrach.

Di tengah aktivitas memproduksi musik, gebyar blantika metal dan kisah hidup musisi Barat, membikin Irfan merenung. Dia menyebut, saat itu kerap berpikir lantaran punya cita-cita sederhana, harus jadi orang sukses.

"Gue perhatiin waktu di Amerika, kehidupan musisi sukses enggak enak, terutama matinya enggak ada yang enak. Gue terus mencari-cari, jalan hidup yang paling sukses jadi apa," kenangnya.

Di tengah pencarian itu, pada April 1997, matanya tak sengaja tertuju buku di rak toko buku terkemuka Jakarta. Judulnya "The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History" dikarang Michael H. Hart. Irfan terkejut, dalam daftar itu, nama Muhammad ditahbiskan jadi orang nomor satu paling berpengaruh sejagat.

"Ini buku yang mengarang dari namanya beragama Nasrani, paling enggak non-muslim, tapi urutan pertama Muhammad, berarti orang ini fair," katanya.

Berbekal buku itu, dia yakin, Muhammad adalah orang paling sukses di dunia dan harus ditiru. Sayang, dalam buku Hart, ulasan soal rasulullah hanya 20 halaman.

Semangat 45, dia mencari guru yang bisa menunjukkan jalan mengikuti cara hidup Nabi Muhammad. Hasil ikut pengajian ke sana sini, dia akhirnya mantab mengikuti pola keagamaan jamaah tabligh pada 1998, hasil pesantren kilat 3 hari di Jakarta Selatan. Dari sana, dia mengaku ketagihan dakwah, termasuk berguru hingga India dan Pakistan.

Segala ingar bingar duniawi dilepas, termasuk aktivitas bermusiknya. Padahal, rekannya di jamaah itu tak ada yang memaksanya berhenti menekuni dunia metal.
"Guenya aja yang lebay, padahal enggak ada yang nyuruh berhenti, tapi semuanya, termasuk bisnis, ditinggal total."

Soal perilaku sebelum mendalami agama, Irfan enggan menjelaskan detail. Seperti biasanya digambarkan media, kehidupan rockstar, termasuk di Indonesia, kerap diwarnai gaya hidup liar. Tak jarang melibatkan alkohol dan narkoba dosis tinggi. Nyawa dua rekannya di Rotor, diduga kuat terenggut akibat pola hidup binal itu.

Pria yang kini dikarunia empat anak dari seorang istri itu hanya menyebut, masa-masa sebagai musisi metal serupa berada di selokan bau.

"Ibaratnya gue 20 tahun di comberan, heboh, ketika habis dakwah, kayak dibawa ke penthouse hotel bintang lima," tuturnya sambil tertawa lepas.

Selain keliling dakwah, kini Irfan sehari-hari mencari nafkah dari bisnis multilevel marketing. Selain itu, keputusan besar dia buat pada 2009, yaitu kembali menekuni metal.

Irfan menyebut area restoran waralaba Amerika tempat kami bersua, menjadi "kantornya" untuk urusan bisnis, atau dalam bahasanya, perkara duniawi. Termasuk menjual CD dan merchandise Rotor.

"Gue enggak mau ribet, buat urusan dunia, di sini aja, Allah pun mengatakan, 'Aku tidak suka hambaku bersusah payah, untuk sesuatu yang sudah kutetapkan'," ungkapnya.

Soal keputusannya kembali ke jalur metal, Irfan mengaku semata-mata agar mudah berdakwah kepada rekan sesama musisi. Jika dia hanya menjalani bisnis MLM, sulit bertemu teman-temannya yang dulu aktif di kancah metal.

"Gue kasihan sama teman musisi yang tiap hari latihan, akhir pekan ngeband, terus manggung, kasihan besok mati, gimana mau bikin report ke Allah. Enggak bisa elu laporan, 'ya Allah, saya sudah bikin sekian album' enggak bakal diterima."

Namun, Irfan mengaku sekadar menjadi rocker pasif. Dia tak pernah sengaja mencari job untuk manggung. Band yang dihidupkan lagi ini pasrah saja bila ada yang mengundang. Tak heran sejak 2009, baru tiga kali Rotor tampil live. Album baru pun masih molor, sudah terkumpul 8 lagu, tapi belum dilempar ke pasaran.

Berbeda dengan aliran metal "satu jari" yang politis dan sedang tren di Indonesia kiwari, Irfan enggan memberi pesan-pesan tertentu ke lagunya yang baru. Dia mengaku, mencomot saja ayat Alquran dalam bahasa Inggris ke dalam karyanya yang masih kental bercorak metal. Misalnya, dia contek persis surat Al Kafirun, untuk lagu "Infidel".

Dia juga tak risih jika dianggap ambigu karena tetap menganggap bermusik itu haram. Menurutnya, lantaran dilandasi niat utama berdakwah kepada sesama musisi dan penggemar metal, dosanya "balik ke metal" bakal diampuni Tuhan.

"Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima pahalanya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima balasannya," ucapnya menyitir surat Az-Zalzalah ayat 7-8 di kitab suci.

Selepas ashar, saya berpamitan. Meninggalkan Irfan di "kantornya", bertemu seorang rekan bisnis.

Sampai waktu belum ditentukan, bisa dipastikan, mantan raja metal ini mudah ditemui di dua lokasi bertolak belakang: masjid dan restoran cepat saji. Irfan yakin hidupnya selepas mendalami dakwah tak bakal berubah. Metal hanya salah satu medan yang kini coba ia taklukkan dalam rangka menyeru manusia kembali pada Tuhan.

"Target jangka pendek itu ya dunia ini, mati. Jangka panjang, ya surga nanti," ungkapnya dengan senyum tersungging, sebelum kami berpisah meneruskan hari masing-masing.

 


16 Mei 2013

Wanita Cadas dalam Musik Metal Indonesia Part I

Selamat pagi sedulur hellyeah.Siapa bilang metal hanya untuk kaum pria? Siapa berkata untuk jadi vokalis atau gitaris metal itu harus ber gender laki laki??
Yuk mari sedikit saya akan mengulas beberapa ladies metal indonesia.
Mereka cantik, Smart , cute sepintas orang akan bertanya , itu beneran dia bisa scream?bisa tapping?
Jawaban nya BISA!!.
Karena di sini saya akan mengulas band metal wanita dan vokalis metal wanita di indonesia.
Dimulai dari Popo Demon’s Damn. Buat Barudak bandung tentulah mengenal satu band dengan nama Demons Damn. Mereka beken dengan single ‘ Dominasi Arogansi ‘ siapa vokalis di lagu tersebut?
Tak lain dan tak bukan adalah ladies bernama Popo .Sedikit bocoran tentang neng Popo ini dia mengenal dan bermain musik metal sejak smp.di usia 13 Tahun. Keren ya? Musik pertama yang dia dengarkan adalah lagu lagu dari band trash legend asal brazil : Sepultura
Hingga kini beliau masih eksis dengan ideologi metal nya. Band dia sendiri juga masih gahar bermain di even2 metal jawa / bali.
Hail Demons Damn.




1367378958686635991



Next saya akan membahas band beraliran Hardcore dari tanah Jember. Bernama Streogoica
Mereka ini benar benar hebat dan 2jempol saja rasa nya tidak cukup untuk mengapresiasi betapa cadas nya mbak mbak asal jember ini dalam mengolah musik keras.
Melejit via single Hidden Grudge . Sekarang kehadiran mereka sangat di perhitungkan dalam scene musik keras indonesia. Member Stregoica sendiri adalah : Ellyz,Che,Irinz  ,D esy
Bermain bersama semenjak tahun 2006 tentu sudah membuat mereka skill full serta berpengalaman.
1367379315790022831
Stregoica Band / https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/283730_486132401414253_806164806_n.jpg






Band berikutnya adalah Flower Flesh  . Band ini sangat penulis kenal dan sampai sekarang masih berhubungan baik. di karenakan dulu pernah bermain bersama dalam salaah satu even metal yang di gelar di Bali akhir 2012 lalu.
Sedikit banyak tentang Flower Flesh
Terlahir dari darah dan daging sang maha pencipta.
Terbentuk karena keyakinan dan kepercayaan.
Lahirlah Flower Flesh.Flower Flesh terbentuk 2 Mei 2011. Dari sekumpulan cewe-cewe metal Bali yang ingin menunjukan skill kepada Metalheadz di jagat raya ini. Bukan semata-mata hanya bersenang-senang dan hanya bergaya saja bahwa kita anak cewe metal. Tidak hanya itu, kami akan membuktikan kepada semua para metaler cowo tentunya, bahwa kami juga bisa bermain musik layaknya band metal lainnya.
Arti Flower Flesh itu sendiri adalah Daging Bunga.Yang melambangkan kekuatan seorang wanita dalam semua hal khususnya bermusik.Flower Flesh digawangi oleh 5 personil pure metaladies.
Diantaranya
Nova : Vokal
Emma : Lead Guitar
Ogeg : Guitar
Violyta : Bass
Shonia : Drum
Dengan aliran yang kami sepakati adalah Metal / Death Metal
Kami semua sepakat membentuk band metal pure ladies yang ada di Bali.
Karena di Bali begitu banyak metaladies yang masih malu-malu menunjukan kiprahnya dalam dunia metal.
Untuk itu,dengan membentuk band ini kami ingin memajukan Metaladies di Bali.
Walaupun kami baru terbentuk dan skill kami masih belum mencukupi.
Tapi semangat kami selalu membara.. m/

1367379651550089766
Flower Flash Bali Death Metal /https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/62383_530749983612193_1222391840_n.jpg



Penulis akan mencoba secara berkala terus mengulas female metal atau band band metal indonesia. Harapan penulis agar dunia tau metal wanita di indo itu tidaklah kalah gahar dan kalah skill dari pada metalhead laki laki.
Terus berjuang
Keep spirit

metal sak modare
m/
Be Continue

13 Mei 2013

Ulasan: Forgotten, "Laras Perlaya"

  Di Sadur dari  :
 
 
 
 
 
Pendahuluan: Ulasan ini telah dicetak untuk Paper Zine edisi ke-8 Desember kemarin. Dimuat kembali untuk tujuan dokumentasi.
Album ini datang satu paket dengan sebuah novel. Untaian cerita yang digarap oleh sang biduan, Addy Gembel. Terlepas dari pemaknaan rangkaian kata-kata yang membentuk-bangun ruang sebuah dimensi cerita, mengulas album ini berarti juga mengulas sastra selain dari pada musik itu sendiri. Artinya, memaknai album ini adalah juga memaknai apa yang hendak Addy Gembel utarakan dari judul ke judul cerita, dan antara “Bubuka” hingga “Pusara Beku” yang menjadi penanda berakhirnya rotasi CD. Tentunya Forgotten bukan Addy seorang. Perannya yang menonjol itu, baik yang ia sadari atau tidak, menciptakan Forgotten yang hanya Addy. Bukan Toteng, Gan Gan, Dicky, atau Rifki’13. Pula sebagaimana kita bercerita tentang almarhum Homicide yang hanya ada Ucok disitu. Bukan Aszi, Sarkasz, Lephe, dan E-One.
Bukan masalah besar. Kerja kolektif mereka berhasil menciptakan karya paling otentik budaya pembangkangan dari skena Bandung. Forgotten adalah pembangkang moral paling konsisten dari yang pernah ada. Sebagaimana awal kemunculannya di Ujung Berung hingga 17 tahun mengibarkan bendera, mereka masih setia menjadi penyeru paling pedas bagi kebudayaan yang hampir membusuk karena produk-produk miskin makna, bahkan yang tanpa makna. Produk-produk yang semakin lumrah kita konsumsi hari ke hari guna mengejawantahkan perihal identitas kita sebagai makhluk sempurna. Sempurna di depan kasir dan sempurna di depan Tuhan. Mereka yang kemudian bertaruh, siang dan malam, sembari terus merapal ayat-ayat dan pujian-pujian kepada Tuhan sebagai pelumas asa. Bahkan disaat mereka cuci tangan dari darah. Darah yang membeceki istana mereka dari koloni gembel dan jelata.
Inilah epos satirnya manusia dari Forgotten. Dengan dilengkapi doa-doa di abad pembusukan, membuat manual yang diotorisasi oleh negara menjadi miskin makna. Ia dirancang amat begitu gundah dengan bermuatan sesak gemuruh amarah di tiap riff dan konstannya rentetan snare. Menciptakan Laras Perlaya yang bermakna ‘tembang kematian’, menjadi serapah koloni yang telah dicampakkan oleh dewa. Khayangan yang demonik. Roman dan tragedi, cinta dan kebencian, juga tuhan dan setan. “Bubuka” yang berfungsi sebagai gerbang khayal memasuki khayangan menjalani tugasnya begitu mulia. Ia mengantarkan kita pada kengerian dalam perjalanan kita menelusuri setapak lajur menuju khayangan. Dimana ia menyediakan kita surga dan juga neraka. Kita tahu bahwa kita sesungguhnya enggan untuk beranjak. Namun ternyata kita dipaksa oleh situasi yang kelak kudu mengorbankan dan menggadaikan apa yang kita punya. Harga diri dan mimpi, tak terkecuali.   
Senarai tembang dan rangkaian kata yang merefleksikan sebuah perjalanan menuju khayangan. Sebuah perjalanan untuk kematian itu sendiri. Karena sejatinya kita terlahir, sejatinya pula kita sedang dalam perjalanan untuk mangkat. Sungguh tragis. Sebut saja sang dewa Theos, yang juga berperan sebagai penjaga pintu surga itu. Atau nama-nama lain semisal Lilith, putri dari Theos dan Dewi Leto yang akhirnya meninggalkan segala gemerlap nirwana dan memilih pekarangan neraka bersama sang penjaga gerbangnya, Kobal. Hal ini dirancang amat ironis pada perkamen pengantar Laras Perlaya yang ternyata sudah Addy selesai tulis sejak 2008. Tutur bahasanya begitu jujur, lugas, dan miris. Kalimat-kalimat yang ia gunakan dalam novel ini kelak menjadi manifestasi dari lirik-lirik singkat yang terdapat dalam album ini. Menjadikan “Hajar Jalanan” hingga “Pusara Beku” tak sekedar jargon atau slogan-slogan simbol kekerenan belaka.

Sedari “Musim Panas Menghitam”, tokoh antagonis sudah menjelma dengan sendirinya tanpa perlu kita tafsir berulang-ulang. Ia menyerupa dunia yang hari ini kita tempati dengan segala ampas hidup. Dari rentenir, makelar, korporasi, dan dunia yang tragis. Dibuka dengan dialog makhluk berbekal sapu terbang dan penjaga warung dengan gambaran suasana yang dingin, pagi, dan sekejap menghangat. Mereka bertukar embun dengan menghamburkan kata yang tak jua membebaskan sang Kurcaci bertudung hitam, si pengendara sapu terbang. Pagi yang amat revolusioner. Celoteh sang pemilik warung, Moksa, dengan sengnya yang doyong tersebut, mampu membangun imaji resureksionis diantara jejaring kosmis yang berkelindan lewat bagaimana sang penulis membentuk dimensi cerita.
Dibalik medan wacana antara Moksa dan Kurcaci tersebut, saya teringat tentang apa yang dikatakan Evey Hammond (Tokoh utama dalam film V For Vendetta). Ia mengatakan bahwa “Seniman menggunakan kebohongan untuk mengungkap kebenaran” sebagai negasi dari, “Politisi memakai kebohongan untuk menutupi kebenaran”. Sekarang, hal tersebut kudu dikonfrontir dengan debat yang muluk dari Moksa dan Kurcaci: “Hey, seniman bukan bebas berekspresi tapi bebas menipu. Atas nama estetika dan makna semua hasil karya adalah pundi-pundi berharga...”. Sampai disini, dunia kita sesak akan hal apapun itu yang dapat menjadi seonggok seni. Bahkan tahi anjing menggulung bak obat nyamuk dengan disoroti cahaya temaram, kemudian ditempatkan dalam sebuah galeri milik kurator terkemuka maka, kun fayakun! Jadilah ia sebuah seni.
Post-modern adalah juga sengkarut benda-benda yang ‘biasa’ kita temui dapat beralih makna menjadi barang seni. Ia direpresentasikan ke dalam bentuk lain. Direproduksi menggunakan bungkus dan enviromental. Dari sini juga makna itu hilang, kandas tak berbekas. Ia hanya akan menjadi komoditi seperti, “...Atas nama estetika dan makna semua hasil karya adalah pundi-pundi berharga...”. Kata “...berharga” sendiri merupakan penekanan akan sesuatu dengan barcode dan label yang menggantunginya. Bukan malah sebuah ‘arti’ atau ‘makna’. Karena, estetika itu sendiri yang akhirnya menuntut untuk memberangus makna dari produk, dari aktivitas, dari apapun yang kita lakukan di dunia. Sebagai penegas, saya akan mengutip penggalan syair Boombox Monger milik Homicide: “...Yang mereproduksi Walter Benjamin ke tangan setiap seniman Keynesian//Yang mensponsori festival insureksi dengan molotov cap Proletarian”.
Fragmen pertama ini berakhir dengan rasa penasaran. Tentang kelanjutan si Kurcaci beserta mimpinya untuk memberontak kembali, dan sang Moksa, yang pensiun dari bisnis merakit molotov sebagai hadiah untuk musuh-musuhnya. Kelak, dalam perjalanan kita menelusuri kata demi kata, kita disuguhi roman penuh keringat antara desahan cinta dan lumernya raga. “Resital Selangkangan”, sebagai kisah vulgar yang diketengahkan sang penulis untuk masuk ke alam batin yang menuntut keterbukaan, kejujuran, dan nol kemunafikan. Darinya, kita belajar untuk berkomunikasi sejernih mungkin, sejujur mungkin, dan memanusiakan manusia sebagaimana mestinya. Cinta yang tercipta antara dua makhluk dengan upaya meruntuhkan tembok pembatas moralitas pajangan yang dilembagakan untuk pemasukan negara. Membebaskan dirinya dalam sentuhan yang paling intim sekaligus magis.
“Resital Selangkangan” sendiri merubah dirinya menjadi “Resital Apokalips”. Ia mewujud Forgotten sekarang, bukan ego seorang Addy lagi yang telah mumpuni memeras saripati kehidupan dan mengejawantahkan secara terang namun dengan disisipi imaji gelap disana-sini. Majas-majas yang ultra ironis, dan siapa yang gagal memahami Forgotten, maka ia akan terjerumus dalam selangkangan yang sama dan tipikal yakni: Satanis. Karena sejatinya Laras Perlaya datang, novel pun menjadi pelengkap tafsir yang berupa fragmen-fragmen yang kelak menjadi kesatuan utuh langgam demi langgam. Seperti syair, “Jangan cari aku di surga//Makna ku hanya metafora”, adalah petuah yang sama yang dimuntahkan dari seorang Al-Hallaj. Bahwa eksistensi berarti jua ketiadaan. Ketiadaan adalah keberadaan.
Sesudah bubuka, tanpa jeda kita langsung menghajar aspal selama 3:10 detik. “Hajar Jalanan”, bersama bass line yang meliuk-liuk untuk kemudian menari bersama dengan sedikit magis tarawangsa di tengah-tengah part yang diapit teriakan gahar dari bung Addy Hamdi. Tanpa perlu tedeng aling-aling, segala patron dan tetet-bengeknya adalah manual pengukuh hegemoni kuasa. Mereka yang mengenyam sarjana, tentu kudu gablek duit. Tega nian dan jelas-jelas standarisasi kelayakan dan kesejahteraan terlahir dari seberapa lama kita mengenyam bangku sekolah. Semakin tinggi dan semakin panjang nama kita dengan gelar, maka semakin nyaman lah ia. “Pendidikan raja tega//Hanya milik kaum kaya”,begitu progresif disuarakan. Cetak biru paling mutakhir dari progresif metal hari ini. Bisa jadi sebuah awal untuk melahirkan prog metal folk dikemudian hari.
Yang paling frontal adalah transformasi epik dari Kobal dan Lilith di negeri dongeng untuk menjadi pembangkang garda depan. Ia mentah-mentah meludahi patronasi seperti di “Surga Metafora”, “Bantai Patronasi”, dan “Tuhan Profane”. Mereka rela menjadi sempalan rezim yang tengah berkuasa, baik dibalik mewahnya surga dan getirnya neraka, dan kisah suram para penghuni alam manusia di pelataran tak juga neraka, tak juga surga. Gaya bahasa yang penulis utarakan pun ternyata tak menemui paceklik metafor saat para sempalan rezim ini menghunus kalam kepada trias politica. Tiga pilar politik, demokrasi, dan negara. “Trias Demonica”, seperti menjembatani makna di syair “Barisan lapar//usung trisula” pada “Hajar Jalanan” dengan “Aparat//Birokrat//Korporat//Trias Demonica” dimana ketiga gagang tajam pada trisula yang diusung itu sudah menemui targetnya masing-masing dengan amat-sangat-telak.
Laras Perlaya ditutup dengan khidmat yang mengawang selama 06:32 detik. “Pusara Beku”, mengalun begitu ritmis. Membangun struktur rapi alam transendental, jembatan antara sylabus otak kanan dan kiri, membuka gerbang vortex kita, untuk kemudian memasuki perlahan alam personal di pojokan hati seorang Addy. Ia yang telah melewati kurun waktu, getir dan puritan sekaligus menjadi manusia seutuhnya. Mengingat saat ia menjalani kritis karena penyakit yang dideritanya, terkadang membuat lagu ini menjadi nada refleksi tersendiri – terlepas dari semua anggapan. Sisanya, hanya keheningan, dan sayup-sayup tarawangsa berbaur petikan jentreng yang semakin menipis dan terus hilang dibalik keheningan. Tanda klimaks dari distorsi dan mega yang mendentum. Berbarengan dengan kelahiran yang juga kematian, Requiem Tanpa Nisan.
Dalam The Birth of Tragedy, Nietzsche pernah berujar. “Musik, melambangkan sebuah ruang yang melampaui dan mendahului semua fenomena”. Syahdan, struktur nada pada Laras Perlaya adalah juga buah yang ranum hasil riwayat dari tokoh-tokoh yang menghiasi rangkaian cerita di Laras Perlaya. Sebuah album secadas marmer menghitam ini dimulai oleh kesunyian, tarawangsa mengawang, petikan repetitif, minor-datar-fade out-minor dan dijumpai tom-tom yang rancak. Pertanda tragedi akan lahir. Dan sebagaimana ia lahir, tragedi itu pun ditutup oleh nada yang mengalun persis sebagaimana tragedi tersebut terlahirkan. Ia telah melampaui apa yang oleh orang yakini sebagai takdir, sebagai ketidakmungkinan. Hidup, karenanya jika bukan sebuah tragedi, maka – kembali mengutip Nietzsche – sebuah gambaran yang seolah-olah dialami sendiri, yang sebenarnya dia tempatkan dalam sebuah konsep. Konsep itu bernama kehidupan, dengan langgam tentang sebuah akhir dimana kita sendiri yang kudu menentukannya. Bukan nasib, takdir, malaikat terlebih aparat.