17 Agustus 2013

Album Cover Artwork

Album Cover Artwork


Sumber Berita


Publish: 8 Juni 2013 | Author & Copyright: Ervyn | Status: Photo Effect
Salam grafis, sebelumnya, maaf mungkin sudah terlalu lama saya tidak menulis di ilmugrafis.com, dikarenakan banyak hal yang tidak memungkinkan saya untuk banyak menulis, hehe… Kekurangan ide salah satunya.
Mungkin di tutorial Photoshop kali ini, teknik dan hasil hampir menyerupai GPP atau Digisketch tapi kalau boleh saya katakan, tutorial atau efek Album Cover Artwork ini lebih terinspirasi dari Album Cover-nya The Cranberries yang berjudul "Roses" ,bagaimana bentuknya, bisa teman-teman cari lewat Google Search atau Yahoo. Haha…
Ok, tanpa banyak panjang nan lebar lagi, inilah :

Tutorial Membuat Album Cover Art

saya akan menggunakan image atau foto dari Marilyn Manson.


Marilyn Manson

 Gambar : Marilyn Manson

 
Kenapa Marilyn Manson? Alasannya tidak ada hubungannya sama sekali dengan grafis, lebih pada saya menyukai musiknya… Hahaha… Yang perlu diperhatikan adalah resolusi dari image yang akan kita gunakan, karena akan berpengaruh besar pada hasil akhir, saya rasa teman-teman sudah mengerti apa itu resolusi dan yang mana resolusi yang bagus dan tidak, karena saya tidak akan menjelaskannya di sini, yang jelas, kamera Handphone yang beresolusi di bawah 2 MPx dengan DPI 72, itu buruk menurut saya.
Catatan : Jangan menggunakan Image di atas, karena sudah saya resize untuk ukuran web.
Langkah-langkahnya  sebagai berikut:
1. Tentu saja membuka foto tersebut dengan Photoshop, disini saya menggunakan Photoshop CS 4, tidak berpengaruh sama sekali jika teman-teman menggunakan Versi lain. Setelah itu, tekan Ctrl+L (Level) lalu pilih auto kemudian klik OK, ini sedikit penting setiap editing menurut saya, untuk menyesuaikan Brightness, Contras & Color-nya.
2. Tekan Ctrl+J (Layer Via Copy) atau bisa menggunakan Duplicate Layer, sama saja menurut saya.
3. Melalui langkah kedua tadi, kita mendapatkan dua Layer yang sama, layer Background ditujukan untuk backup saja, kembali ke layer 1, pilih menu Image >> Adjustments >> Black & White, maka akan muncul Windows seperti pada gambar di bawah ini.

Setting "Black and White"

Gambar : Setting "Black and White"
Atur-atur saja sesuka hati, yang perlu diperhatikan adalah Red dan Yellow, karena kedua warna ini berpengaruh besar pada warna kulit pada foto. Usahakan image menjadi seperti pada gambar di bawah ini.

Marilyn Manson dalam hitam putih

Gambar : Marilyn Manson dalam hitam putih
4. Kemudian tekan lagi Ctrl+J maka aka nada Layer baru bernama “Layer 1 Copy”, lalu klik Filter >> Stylize >> Glowing Edge, atur sesuai keinginan, perhatikan pada garis-garis yang tercipta kira-kira sudah mencukupi untuk seperti coretan pensil kemudian tekan ok, kira-kira seperti gambar di bawah ini.
Glowing Edge Filter
Gambar : Glowing Edge Filter
Masih di Layer yang sama, tekan Ctrl+I (Invert), image tersebut akan berbalik warna, dimana putih menjadi hitam dan sebaliknya.
Cover Album invert
Gambar : Cover Album invert
5. Lalu pilih Brush Tool, klik kanan pada layer lalu pilih Soft Round Brushes, terserah ukurannya, pilih warna putih pada Foreground color, turunkan Opacity menjadi  75% lalu sapukan pada bagian yang dirasa tidak perlu.
Opacity Turun
Gambar : Opacity Turun
Kita hanya memerlukan texture yang ada di bagian wajah dan sedikit di sekitar luar wajah, seperti gambar di atas.
6. Singkat cerita, klik Eraser Tool lalu klik kanan pada layer, pilih Brush Chalk
Brush Chalk
Gambar : Brush Chalk
7. Kemudian pilih menu Windows >> Brushes, set seperti pada gambar di bawah ini.
Setting Brush
Gambar : Setting Brush
Shape Dynamics, Size Jitter = 100% Angle Jitter 55%, lalu pindah ke Scattering, set seperti pada gambar di bawah ini. Scatter = 153%, count = 2
Scattering
Gambar : Scattering
8. Ubah Opacity dari Eraser Tool tadi menjadi 15%.
Eraser Tool Opacity
Gambar : Eraser Tool Opacity
Hapus sesuai keinginan, lihat pada gambar di bawah ini.
Cover Art White
Gambar : Cover Art White
Yang perlu diperhatikan adalah, bahwa Eraser Tool dengan Opacity 15% tidak akan menghapus semua warna putih, tidak seperti ketika 100%, maka titik beratkan penghapusan pada bagian wajah yang lebih gelap, seperti pada gambar di atas.
10. Setelah setelah langkah nomor 9 selesai dan dirasa sudah sesuai keinginan, lalu seleksi semua Layer yang ada, kemudian Merge Layers dengan menekan Ctrl+E. setelah itu, Googling atau gunakan Google Service dan carilah image dengan Keyword Old Paper sesuai dengan keinginan. Saya akan menggunakan image di bawah ini.
Old Paper
Gambar : Old Paper
Drag image Old Paper ini ke Image Marilyn Manson, kemudian ubah Blending Modenya menjadi Multiply, kurangi Opacitynya menjadi 50% seperti pada gambar di bawah ini.
Blending Mode
Gambar : Blending Mode
Kurang lebih image terakhir akan menjadi seperti gambar di bawah ini.

Kurang lebih image terakhir akan menjadi seperti gambar di bawah ini.
Album Artwork Soft
Gambar : Album Artwork Soft
11. Buat New Layer dengan menekan Ctrl+Shift+N. Pilih Brush Tool, klik kanan pada layer pilih Chalk Brushes, lalu set seperti pada langkah nomor 7 untuk Shape Dynamics dan Scattering-nya, ubah Opacity Brush menjadi 10% atau 8%, pilih warna sesuka hati, sapukan pada bagian yang berwarna hitam, acak sesuai keinginan. Lihat gambar di bawah ini.
Hasil Brush Artwork
Gambar : Hasil Brush Artwork
12. Setelah dirasa cukup, ubah Blending Mode dari layer tersebut menjadi Color Dodge.
Album Cover Artwork
Gambar : Hasil Akhir Album Cover Artwork
Jreng-jreng… Selesai….
Dan begitulah kiranya tutorial ini, semoga menjadi sebuah ilmu yang bermanfaat bagi saya dan teman-teman semua… Hehehe… Dan berikut adalah foto orang terlanjur ganteng permanen sejagad raya… Wakakakak…..
My Artwork
Gambar : My Album Artwork
Bukan sombong tapi… Demi Kiaaaaaan!!! Brak! BRak! Brack!! (Gebrak Monitor 3x)!… Kalau bukan saya, siapa lagi yang akan menyebut saya ganteng? Bahkan ibu saya belum pernah mengatakan bahwasanya saya ganteng… Menyedihkan… Hati saya terkoyak karenanya…
Catatan lagi : Hasil akhir dari apa yang teman-teman coba melalui tutorial ini tidaklah sangat penting, yang saya atau web owner mau pada khususnya dan mungkin para penulis lain pada umumnya dari apa yang saya dan mereka tulis untuk ilmugrafis.com adalah pembelajaran fungsi dari tools yang berada di dalam software-software yang kita gunakan di sini. Harapan saya dari tutorial-tutorial yang saya buat adalah, teman-teman mampu mengenal fungsi-fungsi tools dari setiap tutorial yang saya buat, jadi dengan seperti itu, teman-teman sekalian mampu mengembangkan efek-efek pada photoshop khususnya, lalu membagikan kembangan itu pada saya atau teman-teman yang lainnya, agar tidak terasa monotone Photoshop itu… Hehehe… Jadi, kembangkan dan temukan efek baru dari efek-efek yang pernah ada… Tetap semangat, semoga bermanfaat dan MERDEKA!!!!


Sumber


Ratna dan Senja (Love, Circumstances and Loyalty)


Ratna dan Senja (Love, Circumstances and Loyalty)

dreamanzie

Suasana senja terlihat jelas dari jendela kamar Ratna yang berada di lantai 2 dari rumah kayu itu. Bagaikan melihat angkasa lepas beserta bintang tanpa teropong, alangkah bangganya kita melihat keindahan yang diciptakan Tuhan, yang dapat kita nikmati secara gratis. Cahaya orange bercampur merah, Ya Tuhan, itu bukti kalau Engkau adalah Maha dari segala hal. Leonardo DaVinci hanya 1 butir debu bagimu. Atau mungkin, 1 butir debu kemudian dipecahkan menjadi 9 butir debu dalam hal melukis.

Mata indah Ratna seolah-olah tersenyum lebar memandang suasana pedesaan yang terlihat jelas dari jendela kamarnya. Wajahnya yang cantik meski sudah berumur 58 tahun, mungkin jadi bahan perbincangan burung-burung yang sedang bertengger di pohon rindang itu, karena terdengar kicauan burung itu yang saling menyahut. Kebun jambu dan ladang jagung yang luas tetapi belum berbuah, membuat dia termakan oleh kenangan. Terlebih lagi saat dia melihat sebuah gubuk di sebuah sawah milik tetangga, dia menangis.

“Sore istriku, aku bawa sesuatu untukmu. Aku harap kamu suka”.

Suami Ratna tiba-tiba memeluk mesra tubuhnya yang duduk di kursi roda sejak tadi, sambil meletakkan sebuah kantong plastik putih di pangkuan Ratna.

Ratna hanya membalas dengan matanya yang damai dan bahagia luar biasa. Bisa jadi itu ungkapan terimakasih. Tapi siapa yang bisa membedakannya, hanya suaminya lah yang mengerti.

“Ayolah, jangan menangis lagi. Lihat diri kita Ratna. Rambutku sudah memutih semua. Rambutmu juga. Kulitku sudah mengelupas, kamu juga. Jika kamu harus bersedih mengingat kebersamaan yang dulu sangat enerjik, kamu telah salah jika menuangkannya selalu dalam tangisan”.

Ratna diam, tetap memandang pemandangan desa lewat jendela, sambil menggenggam tangan suaminya yang sudah selama ini setia mendampinginya dari muda sampai tua seperti ini, dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau begitu, sebelum aku memberitahukan apa yang aku bawa untukmu ini, aku ingin sekali bercerita denganmu tentang apa yang kita lalui selama ini. Suka, duka, kecewa, putus asa, harapan dan banyak sekali kenangan indah yang kita lalui bersama-sama sampai sejauh ini”.

Ratna mengacungkan jempol kirinya, menandakan dia juga ingin sekali mendengar Suaminya itu bercerita.

“Aku hanya terbawa suasana senja yang membuatku teringat sesuatu yang indah-indah sebelumnya. Kemudian aku selalu memejamkan mata dan kamu selalu menggenggam tanganku seperti ini. Ya, disaat senja seperti ini. Kamu ingat?”.

Suaminya berbicara dengan senyuman yang menyegarkan hati siapapun yang melihatnya.

“Apalagi disaat kamu jarang berbicara akhir-akhir ini, aku jadi rindu masa-masa indah yang kita jalani dulu. Namun bukan maksudku untuk mengira masa-masa sekarang ini tidak indah. Bahagiaku justru bertambah karena kita bisa bersama-sama sampai sosok kita benar-benar berubah menjadi orang tua. Dan kita masih menerima 1 sama lain. Aku sungguh bangga mengenalmu, Istriku.

Masih ingat tidak, saat aku menabrakmu di perpustakaan sekolah sampai 7 buku yang sedang kamu pegang itu jatuh ke lantai semua?”

Suaminya memandang Ratna dengan senyum lepas memperlihatkan gigi palsunya yang putih.

“Aku tidak menyangka itu bisa menjadi momen yang tidak pernah bisa aku lupakan sampai saat ini. Ya, seragam putih abu-abu adalah kenangan kita yang tidak akan pernah sirna dari pikiran. Aku rasa kamu juga begitu kan Ratna?”.

Ratna tetap terdiam, sepertinya asyik sekali mendengar suaminya bercerita tentang kehidupan di masa lalu.

“Setelah kejadian itu, aku selalu termenung di jendela kamarku, terutama saat senja seperti ini. Karena aku merasakan ada sebuah arti dari pertemuan pertama kita, entah itu hanya perasaan yang wajar karena kita masih sama-sama beranjak dewasa atau benar-benar keyakinan dari hati yang paling dalam. Tetapi yang ku tahu, perasaan ini terus melekat, enggan untuk melepaskan diri.

Setiap di sekolah, aku selalu menanti kamu lewat depan kelasku saat bel istirahat. Setelah kamu lewat, aku diam-diam mengikutimu dari belakang, dan terus berusaha untuk tidak terlihat olehmu. Mengapa aku lakukan itu? Karena kamu tahu kan, aku begitu penakut, pemalu dan pendiam. Apalagi dengan perempuan yang cantik sepertimu. Semua laki-laki menyukaimu sepertinya. Dengan rambut lurus pendek sebahu, warnanya hitam pekat menunjukkan rambutmu terawat dan sangat halus. Matamu yang bersinar, cerah dan tajam saat memandang, tetapi sayu. Senyummu bisa membuat lubang di kedua pipimu itu, apalagi sampai terlihat gigi gingsulmu itu, semakin menawan saja kamu Istriku. Laki-laki mana yang bisa menahan untuk tidak berkedip saat melihatmu.

Sampai saat aku ketahuan karena membuntutimu terus, dan kamu memergokiku yang sedang memindik di balik dinding antara kantin dan kelas. Jangan tertawa dulu ya Ratna, memang saat itu aku sungguh malu sampai wajahku berwarna merah seperti sedang di lumuri saus tomat. Aku kira kamu bakal marah karena ulahku itu. Tapi ternyata kamu begitu baik. Kamu malah mengajakku minum es kelapa bersama sambil bercakap-cakap. Ya Tuhan, betapa senangnya aku Ratna. Do’aku disetiap senja ternyata terkabul.

Awal kedekatan kita berlanjut dari es kelapa ke moccacino. Dari anak sekolah ke perguruan tinggi. Tapi sayangnya saat itu hanya aku saja yang diberi kesempatan untuk merasakan duduk di bangku perguruan tinggi, mungkin kamu memang di takdirkan untuk mencintai alam. Kamu bekerja di toko bunga milik ayahku, sampai ayahku sangat menyukai kamu Ratna. Ayah sering membicarakanmu saat aku sedang makan malam bersamanya. Katanya kamu anak yang baik dan bermoral. Aku adalah lelaki paling beruntung yang pernah ada karena bisa mengisi hati kamu, kata Ayah. Ah, Ayah memang selalu baik padaku. Aku yakin itu hanya kata-kata yang dimaksudkan untuk memotivasiku agar semakin berprestasi.

Tetapi pikiran semacam itu hilang saat aku menyelesaikan kuliahku, dan Ayah bilang padaku kenapa aku tidak menikahi kamu, Ratna. Aku sudah cukup siap untuk menikah. Ya Tuhanku, apa aku sedang dalam keadaan bermimpi atau setengah sadar atau memang benar-benar sadar? Aku ingat betul kata-kata Ayah. Kamu adalah perempuan yang akan membuatku bergembira tiada habisnya. Karena terlihat dari kebersamaan kita yang tidak pernah hilang dari awal kita bertemu. Mendengar ucapannya yang meyakinkan itu, aku berniat melamarmu Ratna. Dan kita akan menikah. Tetapi kebahagiaanku tidak berlangsung lama sampai pada ayahku terkena penyakit Jantung dan meninggal 14 hari sebelum hari pernikahan kita”.

Mata Suaminya mulai berkaca-kaca. Seperti hendak menangis tapi tak ingin.

“Saat itu aku sungguh tidak bisa membedakan antara suka dan duka. Antara kehilangan dan baru menemukan. Antara tangis dan tawa. Ayah adalah orang tuaku yang tersisa. Ibu telah lama meninggal, lebih tepatnya saat aku masih berusia 5 tahun karena penyakit paru-paru. Jadi, apakah ada seseorang yang bisa melewati begitu saja kematian orang tua yang disayangnya dengan perasaan yang biasa-biasa saja? Pasti takkan mampu. Begitupun aku. Tetapi aku sadar akan sesuatu, kehidupanku bukan berarti harus selalu larut dalam kesedihan. Memang telah waktunya Ayah untuk menghadap sang Khalik, dan aku tidak ada kemampuan apa-apa untuk mencegah.

Kamu lah yang telah membantuku keluar dari kesedihan yang hampir mendominasi pikiranku. Kamu lah yang membuatku mengerti, bahwa tidak seharusnya kita membiarkan kesedihan terus menerus masuk ke dalam tingkatan yang berlebihan. Kamu lah yang mengajariku kalau kontrol diri akan semakin hilang jika kita tidak menyadari dan terus membiarkan kesedihan menguasai diri kita. Aku tidak ingin itu terjadi dan yang pasti itu dapat merusak hubungan yang kita jalani selama ini. Aku tidak boleh mencampur adukkan masalah kesedihan dengan kebahagiaan yang telah terlihat di depan pelipis”.

Mendengar perkataan Suaminya yang seperti itu, Ratna sedih bukan kepalang. Air mata keluar deras dari matanya, dan tak bisa berkata apa-apa.

“Hei, Aku tidak bermaksud membuatmu menangis Ratna. Tunggu sebentar, Aku harus mengusap pipimu dengan tissue”.

Ucapan mesra itu memang selalu terdengar dari seorang Suami yang sangat menyayangi Ratna itu. Dia berdiri, berjalan menuju lemari kayu tua di samping tempat tidur dan mengambil tissue.

Suaminya segera menyeka air mata Ratna yang keluar deras dengan Tissue. Dan kembali duduk di samping ratna.

“Aku jadi rindu di saat-saat setelah kita menikah. Aku heran mengapa kita tidak pernah meributkan sesuatu yang seharusnya menjadi ritual mutlak bagi pasangan suami-istri yang baru menikah. Semuanya terasa sangat menyenangkan, padahal aku sendiri pun jarang mengucapkan kata cinta kepadamu. Entahlah, menurutku sebuah janji yang hanya diucapkan bibir tidaklah bermakna apa-apa dibandingkan aku memperlihatkan sebuah kesetiaan dan kasih sayang melalui apapun yang aku perbuat. Aku hanya merasa tidak jauh beda seperti pujangga yang sangat pintar menulis kata-kata cinta yang syarat dengan arti, jika aku hanya mengucapkannya melalui bibir tanpa tindakan. Karena aku merasa, aku bukanlah pujangga yang sedang dibicarakan ini. Aku adalah seseorang yang ditakdirkan untuk selalu bertanggung jawab, dan tanggung jawab itu takkan terealisasi jika hanya dengan ucapan.

Setiap senja kita selalu pergi ke gubuk di tengah sawah itu. Kita membawa rantang berisi makanan yang telah kamu buat untuk menyambut aku pulang bekerja. Ya, setiap senja pula kita selalu berdoa di gubuk itu sambil menyapa beberapa orang petani yang lewat, sambil melihat kerbau yang tengah membajak sawah. Tetapi ada 1 do’a kita yang mungkin tidak tersampaikan kepada Tuhan. Bahwa kita tidak akan mendengar suara tangis bayi dirumah. Kita tidak akan menggendong seorang bayi di kamar kita. Ya, kamu mempunyai sedikit masalah kecil di rahimmu yang membuat kamu tidak bisa hamil. Aku melihat kamu begitu sedih saat kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan masalah ini dan kamu mendengarnya.

Setiap hari yang kamu lakukan hanya melihat keluar jendela, mungkin kamu menyangka aku akan kecewa bukan? Tidak Istriku, bahkan tidak ada 1 butir debu kekecewaan yang menempel di dalam lubuk hati. Kita akan terus berbahagia walaupun tanpa kehadiran bayi di dalam hidup kita. Dan aku akan tetap ada untukmu. Bagaimanapun kondisinya, seberapa lama dan tidak peduli seberapa jauh. Aku yang kembali mengingatkanmu akan sebuah kata-kata yang kamu ucapkan. Kamu lah yang membuatku mengerti, bahwa tidak seharusnya kita membiarkan kesedihan terus menerus masuk ke dalam tingkatan yang berlebihan.”

Ratna dan suaminya semakin mengeratkan genggaman setelah suaminya berbicara seperti itu. Merasa bangga akan kesetiaan suaminya sampai dengan saat ini.

“Hari demi hari kita melaluinya dengan berdua. Membersihkan rumah, memasak, merawat kebun, pergi ke gubuk di tengah sawah itu, dan banyak hal lain yang kita jalani dengan sangat menyenangkan. Kita telah menikmati hidup yang luar biasa. Kita telah mendapatkan makna hidup yang sesungguhnya melalui kebersamaan. Setiap pagi kamu memakaikan aku dasi, dan pagi berikutnya, berikutnya, berikutnya, berikutnya, dan disaat kamu menyuruhku melihat cermin untuk melihat dasi itu terpasang dengan rapi atau tidak, aku dan kamu telah berubah menjadi sosok kakek dan nenek. Kamu memakaikan kacamata tebal milikku, kemudian aku berangkat bekerja.

Meskipun di masa tua seperti ini, kita tetap berbahagia. Membersihkan rumah, memasak, merawat kebun, dan banyak hal lain yang kita lakukan dengan rasa gembira yang luar biasa. Tetapi saat aku dan kamu pergi ke gubuk itu, kamu mengeluhkan sesuatu. Kamu merasakan sakit yang tidak biasa di seluruh tubuhmu. Aku langsung membawamu kerumah sakit, dan aku tidak menyangka itu adalah kunjungan terakhir kita ke gubuk yang penuh akan kenangan indah.

Selama dirumah sakit kamu tidak menunjukkan tanda-tanda akan membaik, malah makin memburuk dengan tidak bisanya kamu menggerakkan anggota tubuhmu yang sebelah kanan. Ya Ratna, kata dokter kamu terkena penyakit Stroke. Ketika mendengar ini aku melamun beberapa saat, dan air mataku keluar begitu saja. Seakan tidak menerima kenyataan yang telah aku dapat. Kamu tidak dapat berbicara lagi, kamu tidak bisa pergi ke gubuk lagi, dan kamu tidak bisa merawat kebun Jambu kita lagi. Kamu hanya bisa menatap, hanya melalui matamu lah aku mengerti”.

Suaminya mengeluarkan air mata tanpa bisa dicegah. Ratna pun tak bisa melakukan apa-apa selain menggenggam erat tangan suaminya sambil menangis.

"Sesuatu yang indah mungkin sudah tidak bisa lagi kita lakukan. Semuanya sudah aku tukar dengan uang untuk biaya rumah sakitmu yang membludak. Aku di keluarkan dari tempatku bekerja karena sering tidak masuk kerja, aku lebih memilihmu Istriku. Namun karena keluargamu dan keluargaku pun ikut membantu biaya rumah sakit, kamu bisa di rawat jalan. Kamu bisa pulang Ratna. Karena tagihan sudah terbayar semuanya. Tapi, hanya beberapa hari aku berada dirumah lagi bersamamu, aku sudah merasakan ada yang tidak beres dengan dadaku. Suatu hari tetangga kita mendapatkanku tengah terkapar di ruang tamu, dan langsung membawaku kerumah sakit.

Aku dirawat dirumah sakit dengan ditemani oleh adikku, dan kamu berada dirumah dengan adikku yang 1 lagi. Tapi, dengan berada dirumah sakit ini bukan berarti mereka menjamin akan membuatku sembuh kembali kan? Aku pergi meninggalkan kamu Istriku, dan setumpuk kenangan manis yang selama ini kita bina dan kita jaga. Aku meninggalkan rumah kita yang indah itu. Rumah yang berisi suka, duka, harapan dan banyak lagi hal-hal yang lain. Aku meninggalkanmu sendiri, tanpa sesosok Suami yang selama ini sudah setia menemanimu”.

Ratna menangis dan terus mengeluarkan air matanya tanpa tahu dia harus berbuat apa-apa. Dia hanya perempuan yang lumpuh, tidak bisa berjalan, bahkan berbicara. Dia begitu sedih melihat arwah Suaminya datang mengunjunginya disaat yang tepat. Ingin berbicara, tapi dia tak mampu. Ingin mencurahkan rasa rindu, dia tidak bisa. Hanya bisa duduk diam di kursi roda.

Arwah suaminya pun secara perlahan-lahan hilang dari penglihatan. Dengan meninggalkan bungus plastik berwarna putih di pangkuan Ratna. Ratna segera meraih bungkusan itu dengan tangan kirinya, dan ternyata ada sebuah kotak. Dia pun membukanya dan mendapatkan sebuah surat, kemudian dia membacanya.

Dear Ratna

Untuk semua yang telah kamu lihat, dan untuk semua yang telah kamu dengar, itu semua terukir di dalam pikiranku. Rasakanlah, aku berbicara melalui kata-kata ini. Apa yang telah aku ambil, adalah apa yang telah kamu tinggalkan. Kita kembali berbagi di dalam 1 keabadian, hidup di 2 pikiran. Dihubungkan oleh benang tak berujung, dan tidak mungkin untuk beristirahat.

Happy Anniversary, untuk ulang tahun pernikahan kita yang ke 38 tahun.

From : Love, Circumstances and Loyalty

Back To You






Buliran air menetes satu per satu terjun melewati ujung daun karena hujan telah cukup lama membasahi dunia ini. Langit masih kelabu dan kemungkinan akan hujan lagi, Ahh, rasanya tak mungkin. Karena hujan telah turun selama 3 jam.

Semenjak hari yang sangat kelam itu, aku masih terpuruk dalam keadaan yang selalu membuatku tercekat dan sesak nafas. Saat kata-kata itu terlontarankan dari mulutnya. “Maaf aku tak bisa melanjutkan hubungan ini!” Karena apa? Kau tak boleh langsung pergi! Kau harus menjelaskan padaku! Jangan membuat aku bingung! Tapi, apalah usahaku. TAK MUNGKIN BERHASIL.

Aku masih duduk menatap suasana luar dari sebuah jendela kayu kamarku. Sebenarnya aku tak melihat pemandangan itu. Pandanganku hanya KOSONG. Aku masih memikirkan kejadian itu. Kenapa aku tak bisa melupakannya? Apa aku terlalu mengharapkannya? Dina ayo move on dari dia!!! Kamu gak boleh mengharapkannya!!! Hanya ucapan itu yang sejenak menyemangatiku.

Lamunan itu telah hancur, karena terasakan olehku tepukan tangan yang menepukkan ke bahuku secara perlahan. Aku mendongak dan menatapnya. Orang itu tersenyum ke arahku. Wajahku yang sembab dan air mata itu masih sedikit mengalir. Aku langsung mengusapkannya dengan tanganku. Orang itu merangkulku. Terasa hangat dan sangat hangat. Andaikan dia yang sekarang memelukku?.

“Din, kamu gak boleh sedih terus kayak gini. Kamu harus bisa move on dari dia!” ucap Orang itu yang aku anggap sebagai sahabatku. Keke.

“Tapi, pikiranku masih terus mengingatkanku padanya. Aku belum bisa!” ucapku sembari terisak lagi.

“Kamu pasti bisa. Percayalah padaku!” Ucap Keke meyakinkanku.

—

Hari ini aku mencoba untuk memulai hari-hariku lagi. Hari-hari yang dulu aku aku jalani sebelum ada kehadiran lelaki itu dalam hidupku. Rasa perih dalam hati ini masih sangat terasakan. Sebenarnya aku tak kuasa untuk menahannya. Tapi, aku harus kuat! Aku tak boleh terlalu lemah!

Kaki ini menuntunku berjalan menyusiri koridor sekolahan. Sejenak aku memalingkan pandanganku ke arah lapangan basket itu. Tapi, dimana dia? Aku tak melihatnya. Aku mohon kau jangan sembunyi! Walau hati ini masih terasa tersayat, aku masih sanggup untuk melihatmu. Aku mohon tampakkanlah wajahmu!

Wajahku masih terlihat suram, Aku berjalan gontai masuk ke dalam kelas. Aku duduk melamun, dan menyendiri. Itulah yang aku lakukan disana. Keke menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Din, apa kamu benar-benar sudah sanggup untuk kembali menjalani hidup ini?”

“Aku sanggup bagaimana pun ini adalah jalan hidupku. Aku tak boleh terpuruk disini. Aku harus bisa bertahan walau tanpa kehadirannya.”
Pelajaran hari ini sudah dimulai. Aku tak bisa menangkap satupun pelajaran yang diberikan. Otakku sudah penuh tentang kenangan-kenangan bersamanya. Waktu perlahan terus berjalan tapi, pikiranku masih berhenti dalam suatu kejadian yang sampai saat ini masih membuatku bertanya-tanya.

FLASH BACK ON

Matahari sudah muncul mengantikan rembulan. Semakin tinggi, semakin tinggi. Aku masih duduk di depan meja belajarku menatap sebuah ponsel yang aku tunggu-tunggu untuk berbunyi. Kenapa sampai saat ini dia belum meneleponku? Biasanya jam segini dia sudah menanyakan padaku. Sudah makan belum? Lagi apa? Aku sangat merindukan pertanyaan-pertanyaan itu.

DRRTTT… DDDRRRTT…

Ponselku bergetar! Aku langsung bergegas meraihnya dan mengangkatnya. Aku melihat layar ponselku dan ternyata benar dia meneleponku! Seketika itu hatiku yang penuh dengan penantian, berubah menjadi berbunga-bunga.

“Halo,”

“Nanti sore kamu ada acara?”

“Tidak, emangnya kenapa?”

“Aku mau ketemu kamu di tempat pertama aku menyatakan cintaku padamu.”

—

Senja, Awan berwarna oranye dan sinar matahari yang mulai meredup. Itulah penggambaranku tentang keadaan sore ini. Aku berjalan ke arah lapangan bola basket sekolahku tempat dimana aku dan dia menyatakan cinta. Aku melihat sosoknya. Sosok yang membuatku tekagum-kagum padanya. Dia berdiri disana! Mengenakan kaos putih dan celana jeans panjang hitam. Aku menghampiri sosok itu.

“Panji, kamu udah nunggu lama?” Tanya ku.

Panji adalah panggilan pasangan hidupku itu. Panji Dhewa Saputra. Ia tak menjawab apa-apa dia langsung memegang erat kedua tanganku itu. Aku dan dia saling bertatapan. Tapi, pandangannya terhadapku aneh, tak seperti biasanya. Panji menghembuskan nafas perlahan.

“Din, Maaf aku tak bisa melanjutkan hubungan ini!” ucapnya
Waktu terasa berhenti berjalan, jantungku berhenti berdetak, nafasku tercekat, Aku melepaskan genggamannya dan berlari tanpa arah Air mataku terus menetes seiring aku berlari. Aku masih Tak percaya? Kenapa dia tak mengejarku? Apa dia sudah tak mencintaiku? Aku berharap dia mengejarku dan menjelaskan semua alasanya. Tapi, TIDAK!. Dia tak mengejarku sama sekali!

FLASH BACK OFF

Matahari sudah berada di atas kepala. Bel pulang sekolah juga sudah berbunyi. Biasanya dia menjemputkku disini. Tapi semua itu hanya kenangan. Aku mulai menitikkan air mata mengingat kenangan itu lagi. Aku masih belum sanggup.

—

Hari minggu ini masih terasa hampa tanpa kehadirannya. Aku masih belum bisa move on dari darinya. Mungkin dengan rencanaku ini aku bisa melupakannya dan mencari penggantinya. Aku sibuk membereskan barang-barangku dan memasukkannya dalam sebuah koper besar. Keke hanya melihatiku.

“Din, apa keputusanmu sudah bulat untuk meninggalkan kota Jakarta ini?”

“Aku yakin, aku harus move on dari dia. Kalau aku disini aku takkan bisa melupakannya.”

“Kamu gak bawa foto, Panji?”

“Untuk apa? Aku mau benar-benar move on!”

Aku menarik koper besar itu keluar dari rumah besarku. Aku membuka pintu mobil itu. Terlihat sebuah bayangan kecil sosok Panji disana. Aku coba menghampirinya perlahan ke arah sosok itu.

“Panji?”

Wajah itu menoleh ke arahku. Iya benar itu Panji. Tapi kenapa dia mengacuhkanku? Kenapa dia juga tiba-tiba datang kesini. Aku masih berkutat dalam pertanyaan-pertanyaan itu. Setelah aku tersadar kembali sosok Panji sudah hilang entah kemana. Apakah itu benar-benar Panji atau hanya sebuah ilusi?

Aku kembali berjalan mendekati mobil yang membawaku ke luar kota. Aku memeluk erat sahabatku tanda perpisahan. Tapi, sahabatku itu masih terheran-heran perilaku ku tadi.

“Din, tadi ngapain kamu kesana?”

“Oh bukan apa-apa tak usah dipikirkan. Tolong jangan pernah lupakan aku karena kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Suatu saat nanti aku pasti kembali kesini.

—

Kota Solo adalah kota pilihanku saat ini, untuk menghilangkan kenangan-kenangan bersama Panji. Udaranya sangat sejuk, suasana tenang. Aku berharap aku bisa perlahan melupakan kenangan itu. Banyak orang-orang baru yang kutemui dan orang itu asing semua dan mulai detik ini aku mencoba untuk sedikit demi sedikit kenangan tentangnya.

—

Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci

Bertanya, cobalah bertanya pada semua
Di sini ku coba untuk bertahan
Ungkapkan semua yang ku rasakan

Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku

Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya

Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci

Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya

Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya

Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya

Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku

—

2 tahun telah berlalu, itulah waktu yang aku gunakan untuk melupakannya. Tapi, itu semua tak berhasil ingatanku tentang dia masih terekam jelas dalam pikiranku. Apakah dia begitu penting dalam hidupku?

Aku kangen dengan suasana Jakarta yang sangat berbeda seperti disini, Aku ingin kesana. Tapi, itu artinya aku harus rela ingat dengan memoriku kembali. Tapi mungkin tak sesakit dulu.

Perjalanan panjang telah ku tempuh menuju kota Jakarta. Suasana ramai dan panas inilah yang aku rindukan. Kemacetan yang terus merajalela juga masih terlihat. Tidak ada yang berubah selama 2 tahun ini. Begitu juga perasaanku padanya. Aku rindu dengan rumahku, sekolahku dan tentunya ‘DIA’ .

Mobil yang membawaku ke Jakarta sudah tepat berhenti di depan rumah. Keke juga sudah tampak berdiri disana. Aku menghampirinya dan memeluk erat tubuh Keke. Perlahan Keke melepaskan pelukan itu.

“Din, apa kamu sudah bisa melupakan nya?”

“Masih belum.” ucapku sambil menampakkan wajah yang masam

“Setelah 2 tahun kau meninggalkan kota Jakarta ini, kamu belum bisa melupakannya?”

“Iya. Aku mau masuk ke dalam. Aku capek.”

—

Senja…
Saat matahari mulai membenamkan wajahnya
Digantikan oleh bulan yang menyinari Jagat raya
Aku masih ingat tentang semua kenangan
Kenangan kita bersama
Disini..
Di lapangan basket ini
Setelah 2 tahun aku berusaha
Melupakanmu
Tapi, hasilnya tetap nihil
Memori itu sudah mendaging dalam otakku
Kini aku sadar hanya kamu
Yang dapat mengisi hatiku
Dan tak ada orang lain yang dapat menembusnya.

Aku duduk terdiam di pinggiran lapangan basket ini. Kenangan itu masih terekam jelas. Aku masih mengharapkanmu hadir mengisi hari-hariku. Aku sadar kalau hanya kamu yang dapat mewarnai hariku. Aku mohon kembalilah padaku. Aku tak bisa hidup tanpamu.

Aku merasakan sebuah tepukan mendarat di bahuku. Aku mendongak dan menatapnya. Aku benar-benar tak percaya! Sekarang dia benar benar ada di sampingku. Aku melihat wajahnya. Dia tersenyum padaku! Senyuman itu membuatku terhibur, tenang dan air mataku mulai mengering di gantikan oleh sebuah senyuman.

“Din, kamu jangan nangis, kamu gak boleh nangis!”

“Panji?”

Hanya kata-kata itu yang dapat terucap dalam bibirku. Reflek aku langsung merangkul Panji disana. Panji membalasnya. Hatiku tenang, nyawaku hidup kembali, kehidupanku kembali!!

“Din, maafkan aku, aku telah membuatmu tersiksa. Maafkan aku telah memutuskanmu waktu itu. Sebenarnya aku hanya ingin intropeksi diri dan mengujimu. Apakah aku pantas ada di sisimu? dan apakah kamu akan cepat mendapatkan penggantiku? Ternyata tidak kau masih mengharapkanku. Aku juga masih cinta sama kamu. Aku tak rela untuk melepasmu lagi.”

“Aku juga mencintaimu, Panji.” ucapku lirih dalam pelukan Panji.

THE END

Cerpen Karangan: Diana Kusuma Astuti

20 Ribu Untuk Kebenaran

20 Ribu Untuk Kebenaran

Cerpen Karya

Dreamanzie, Kopaja, Desember 2011 14.35 WIB




Berbagai aroma tubuh dan bau mulut bercampur aduk tercium di Kopaja yang sedang aku tumpangi ini. Penuh sesak tidak aku hiraukan, karena dalam beberapa menit lagi, mata kuliah Pemrograman Web akan dimulai. Quota absen yang di berikan sebanyak empat kali, telah aku gunakan empat-empatnya. Itu berarti jika aku tidak hadir lagi, aku akan mengulang mata kuliah ini semester genap yang akan datang. Tapi entah kenapa, aku selalu optimis tidak terlambat kalau menumpang Kopaja. Karena yang aku tahu benar tentang Kopaja, mereka adalah Raja Jalanan dan tentu saja selalu cepat.

***

Suatu hari aku pernah melihat seorang wanita kantoran berbicara kepada kernet tentang kapasitas bis yang sudah melebihi batas. Wanita itu duduk di tengah, sementara penumpang lain yang berdiri terus bertambah dan semakin menyulitkan untuk bernafas. Kemudian wanita itu memaksa untuk turun. Berdesak-desakkan menerobos penumpang yang sedang berdiri. Aku mengintip di sela-sela tubuh para penumpang yang lehernya telah basah berkeringat, dan melihat wanita itu sedang muntah di pinggir jalan.

Sesaat setelah wanita itu turun, kernet yang berlogat Batak itu berbicara keras sambil memegang uang kertas yang di susun sangat rapi "Kalo numpang jangan banyak ngatur. Gak seneng ya turun. Orang kaya kenapa gak naek bis sebelah tuh, TransJakarTai". Semua penumpang tak ada yang peduli dengan kata-kata si kernet batak itu. Dan yang paling penting dari kata-kata itu, aku paham betul apa yang paling di benci oleh kernet dan supir Kopaja. Ternyata TransJakarta. Aku yang sedang berdiri hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata si kernet. Aku selalu mengingat-ingatnya untuk aku tulis di tulisanku, dan sekarang inilah cerita itu aku ceritakan kembali.

***

Aku berdiri lagi dan memang selalu begitu. Kernet mulai mengecrek-ecrek uang logam, tanda untuk meminta ongkos. Terasa jari tangannya mencolek bahuku. Aku menengok, dan aku melihat si kernet yang tersenyum. Tidak seperti biasanya. "Ongkosnya mas" pintanya halus, dengan logat Jawa tulen.

"Oh iya bang, sebentar" Aku merogoh kantong celanaku dan tidak ada receh. Terpaksa aku memberikan uang dua puluh ribu "Gak ada receh Bang".

"Yaudah gapapa nanti di kembaliin" kata si kernet.

Kernet itu berdesakkan lagi untuk meminta ongkos kepada penumpang bis yang sudah penuh sesak. Di tambah si supir yang ugal-ugalan mengendarai bisnya, menyulitkan si kernet untuk melangkah karena selalu ingin jatuh. Setelah kernet itu sudah berada di depan bis, aku ingat kejadian satu tahun yang lalu. Aku pernah memberikan uang dua puluh ribu, tetapi si kernet tidak mengembalikan uang kembalian ongkos. Saat itu aku sedang UTS mata kuliah Aplikasi Komputer, tetapi aku tidak pernah sampai ke kelas itu. Sesaat setelah aku turun dari Kopaja, aku hanya duduk terdiam di pos polisi pertigaan Green Garden. Menunggu temanku datang untuk menjemputku dan mengantarkanku pulang, karena aku tidak punya ongkos lagi.

***

Kejadian itu terjadi satu tahun yang lalu. Saat itu hujan mengguyur bis Kopaja yang aku tumpangi dari Kalideres menuju Green Garden. Sedangkan aku sedang berpikir, bagaimana caranya aku bisa sampai ke sebrang jalan dan naik angkot lagi tanpa terguyur hujan. Si kernet menyolek bahuku "Ongkos ongkos!" katanya kasar dan tanpa senyum sedikitpun.

"Sebentar bang" jawabku kesal sambil merogoh kantong celana dan membayar ongkos dengan uang dua puluh ribu "Gak ada receh" aku melihat matanya tajam.

"Yaudah ntar kembaliannya" ucapnya sinis.

Saat itu aku hanya memikirkan tentang soal UTS nanti. Menebak-nebak kira-kira soal yang keluar nanti apakah yang telah aku pelajari di rumah atau bukan. Belum lagi masalah hujan, bagaimana aku sampai ke sebrang jalan tanpa basah kuyup. Jadi aku lupa dengan uang dua puluh ribu itu. Ah, kupikir si kernet itu akan mengembalikannya. Aku melihat suasana bis yang mulai sepi dan melihat bapak-bapak sedang membaca koran di bangku paling belakang. Aku melihat headline koran itu "SUAP MULUT: Trend Menutup Kebenaran di Indonesia". Aku sedikit terkikik, serendah itukah harga kebenaran di Indonesia sehingga bisa di ultimatum dengan kata "UANG"?

Aku belum ingat tentang uang dua puluh ribu yang belum di kembalikan. Kulihat si kernet sedang berteriak "Lipi..Lipi..Lipi". Tetapi aku harus turun dari bis sekarang juga karena sudah sampai tujuanku. Sebenarnya aku tidak bodoh kalau saat itu aku turun begitu saja untuk mengejar angkot di seberang jalan. Karena kalau tidak aku kejar, aku akan telat, pasti. Dan akupun turun, tetapi si kernet tidak sama sekali membahas tentang nasib kembalian ongkos. Aku melihat Kopaja itu berlalu indah dengan suara mesin rongsoknya yang gagah. Aku periksa kantong celanaku untuk memastikan ada uang receh untuk naik angkot selanjutnya. Dan aku baru ingat "Aku hanya membawa uang dua puluh ribu, KAMPRET!".

Aku berjalan menuju pos polisi di pertigaan Green garden dengan wajah tertunduk bingung "Ke Kampus naik apa? Jalan kaki?" begitulah pikiranku. Saat itu memang aku panik, tapi sengaja aku berlaga seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Aku sibuk menelepon teman-teman kampusku, tetapi tak ada jawaban. Aku ingat lagi, "apakah seekor cicak telah jatuh di kepalaku kemarin?". Setelah aku sampai di pos polisi, aku langsung duduk. Melihat tiga orang polisi sedang mengatur lalu lintas, karena lampu lalu lintas mati. Lalu temanku mengirim SMS "Ji, kelas udah mulai lu dimana?".

Aku membalas "Selesai UTS, lo jemput gue di pertigaan Green Garden. Nanti gue ceritain". Aku langsung menaruh handphone di ransel.

Tak lama, kemudian salah seorang polisi menghampiriku "Mau kemana dek?" tanyanya ramah.

"Mau ke kampus pak" jawabku lemas.

Polisi itu meneguk segelas kopi, "Kok daritadi gak berangkat-berangkat?" dia menaruh gelasnya.

"Uang Saya ketinggalan di Kopaja pak".

"Loh kok bisa?"

"Saya lupa minta kembalian" aku tertunduk, tersenyum malu.

"Lain kali sediakan uang receh. Kernet itu girang kalo ada penumpang yang memberikan uang ongkos yang besar" katanya, sambil menunjuk-nunjuk bis Kopaja yang lewat.

"Iya pak, Saya ceroboh banget hari ini" aku masih tertunduk sambil menggaruk kepala. "Tapi gak apa-apa pak, hitung-hitung ingin mencari tahu kalo kernet Kopaja itu jujur atau enggak".

"Lalu, bagaimana kesimpulannya?" tanya polisi itu.

"Ya tidak selalu jujur" jawabku.

"Berarti, kamu rela membayar dengan seluruh uang jajanmu untuk membuktikan kebenaran?"

Aku terdiam, aku tak mengerti maksud Pak Polisi itu.

"Kadang, kebenaran itu bisa terbunuh dengan uang" kata Pak Polisi itu sambil berlalu meninggalkanku untuk mengatur lalu lintas lagi sambil menaik-turunkan alisnya yang kanan beberapa kali.

***

Tidak terasa sudah lama aku melamun memikirkan kejadian satu tahun lalu. Dimana sedikitnya aku mengerti tentang kernet Kopaja. Dan aku juga mengerti tentang kebenaran yang mempunyai harga. Aku langsung mempunyai strategi, aku akan berpura-pura lupa untuk meminta kembalian ongkos. Sehingga aku bisa memastikan tingkat kejujuran dari kernet Kopaja, sekali lagi. Si kernet mengetuk kaca pintu Kopaja dengan uang logam "Garden...Garden...Garden" itu tandanya aku harus segera turun. Aku pakai switerku, aku pakai topi dan aku bersiap untuk turun. "Bang..Bang, Green Garden".

"Iya...iya depan dikit dek" kata si kernet. Kemudian dia melihatku "Ini kembaliannya dek. Kan belum di kembaliin".

Aku langsung tersenyum mendengar suaranya yang berlogat Jawa "Oh iya bang, Saya hampir lupa"

Dia menghitung-hitung uang yang akan di kembalikan kepadaku "Nih dek kembaliannya. Turun disini?" tanyanya.

"Makasih ya Bang. Iya disini" jawabku.

Dia langsung mengetuk kaca pintu dengan cepat "Kiri...kiri...kiri" teriaknya.

Aku pun langsung turun dengan wajah sumringah. Bukan karena aku naksir dengan si kernet itu. Tapi, karena aku masih bisa melihat kernet kopaja yang jujur. Meskipun seluruh masyarakat Jakarta tahu, kernet dan supir kopaja adalah preman, dan seluruh masyarakat Indonesia tahu, preman itu jahat, tetapi aku bisa membuktikannya langsung, kalau tidak semua masyarakat Indonesia -khususnya supir dan kernet kopaja- yang bersikap curang dan korup. Masih ada orang yang sangat menghargai kebenaran milik orang lain, meskipun aku harus mengeluarkan uang dua puluh ribu untuk taruhannya.

Dreamanzie, Kopaja, Desember 2011 14.35 WIB

Foto-foto Langka Tragedi Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki

Sumber
Sumber Tulisan




Pada tanggal 6 Agustus 1945, Amerika Serikat mengirimkan 2 buah pesawat jenis B-29 yang membawa bom atom “Little Boy” dari markas Amerika di Filipina. Pesawat bernama Enola Gay ini membawa bom nuklir dengan massa 55 ton. Tepat pukul 9 pagi, bom tersebut dijatuhkan di kota Hiroshima hingga area seluas 50 kilometer persegi seketika rata dengan tanah. Tiga hari kemudian, tepatnya tanggal 9 Agustus 1945, Enola Gay kembali menjatuhkan bom “Fatman”. Kini sasarannya adalah kota Nagasaki, kota itu luluh lantak kira-kira seluas 100 kilometer persegi akibat hantaman bom dengan massa 105 ton.
Dua peristiwa tersebut menewaskan kurang lebih 220.000 orang, dan ribuan lainnya menderita akibat radiasi. Senin kemarin, 6 Agustus 2012, Hiroshima menggelar upacara peringatan 67 tahun peristiwa bom nuklir. Dikutip dari situs berita xinhuanet.com, Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda dalam acara itu mengatakan :
Manusia tidak boleh sekali pun melupakan tragedi akibat senjata nuklir yang terjadi 67 tahun lalu. Tragedi itu tidak boleh terulang kembali. Kami (Jepang) akan mempertahankan “tiga prinsip bebas nuklir” demi pemusnahan senjata nuklir dan perwujudan perdamaian abadi di dunia.
Sekedar mengenang dan menyaksikan betapa mengerikannya akibat yang ditimbulkan oleh bom nuklir, dibawah ini adalah beberapa foto setelah terjadinya peristiwa tersebut. Diambil dari situs life.com
FOTO:



























3 Agustus 2013

Kado Dari Sahabat

Seorang teman adalah seseorang
tertawa dan menangis dengan Inspirasi,
Seseorang yang meminjamkan tangan membantu,
meskipun teman-teman mungkin tidak selamanya,
Dan mereka tidak mungkin berakhir bersama-sama,
kenangan persahabatan sejati akan
bertahan selamanya.
Seorang teman bukanlah bayangan atau hamba
Tetapi seseorang yang memegang
sepotong seseorang dalam hatinya.
Seseorang yang berbagi senyum,
Seseorang yang mencerahkan hari Anda



Lewat sebuah blog ini aku akan mengumpulkan karya karya kado terindah dari sahabART sahabART ku semua ,,
Terimakasih sudah kau luangkan waktu untuk membuatkan gambar gambar yang terlihat sangat indah ini kawan...
semoga budi baikmu di balas oleh Tuhan YME
Amin


Buah Karya Mas Dari Share Design ( Si Di Doy ) Terimakasih sekali mas bro.,




 Kado dari sahabART share design Mas MIUN NEW ANU ANU , Terimakasih sahabART
Creed - My Sacrifice - Pas buat gambar di atas 
Dari mas Will Sevenfoldism . Terimakasih Mas Bro :) :) :) 
 
 Creed - With Arms Wide Open 
 Dari Om Yoan Joe ( Terimakasih Om  )
Breaking Benjamin - So Cold
Dari Niken Amelia ( Terimakasih Sist ) Breaking Benjamin - Give me a sign 
 Dari mas Obli Share Design 
Terimakasih Mas Bro
Metalica - Nothing Else Matters 
 
 Dapat Kado lagi dari Om Yoan Joe 
Terimakasih sekali om :)
Dari Mas Wira Terimakasih sekali mas bro Metalica - One

 Dari Mas Shemoet Ireng
Terimakasih mas bro 





Dari Seorang Guru PhotoshopQ
Mas ARIN RAJAWALI
Terimakasih mas bro





Dari Mas Rangga

Terimakasih mas Bro
:)




Inner beauty - Nurani Kehidupan







Dari mbak Dewi
Terimakasih mbak :) :) :)



 Tiada kata dapat terucap
Semoga kebaikan kalian akan mendapatkan balasan yang setiimpal dari NYA Sukses selalu sahabART Ferry Prasetyo