Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

14 September 2013

DIARY UNTUK LANGIT

Diary Untuk Langit

http://blogs.bournemouth.ac.uk/research/files/2012/01/bluesky.jpg

Disaat melody elegy berputar di kepalaku dan memaksa semua sel otakku untuk mengingat rekaman masa lalu. Mimpi, harapan hingga perasaan yang terlalu abstrak untuk dirasakan. Ini tentang Langit. Ini tentang kita. Dan berjuta-juta detik yang lalu masih hangat untuk diingat. Aku merindukan sosok Langit dan masih merindukan kehadirannya.
Aku masih menunggu ketika segala elemen waktu dan alam berpihak pada kebersamaan kami. Seperti tiga atau empat tahun yang lalu.
Kami adalah teman semasa SMA. Aku mulai mengenal Langit di kelas XI karena keberbedaannya dalam berpikir. Dia juga orang yang baik. Dia pemimpi sejati yang pernah kutemui dan mungkin karena inilah kami selalu bersama.

Miara,

“Langit tungguin dong.” Teriakku
“bisa nggak sih jalan pake kecepatan cheetah gitu. Dasar putri keong.”
“iya-iya ini mau kemana sih?” tanyaku
“ke perpus Ra. Cari artikel astro terbaru.” Jawabnya santai
“itu kan nggak masuk mata pelajaran.” Tanyaku
Tapi ia hanya tersenyum. Langit penggila sains yang terobsesi dapet nobel award atau jadi bagian dari NASA ini memang semangatnya nggak pernah pudar. Persis pejuang kemerdekaan deh.

Kami duduk di salah satu sudut perpustakaan dengan bangku kayu. Disini sangat tenang. Aku suka penataan dan suasana perpustakaan ini. Jauh dari modern sih tapi untuk kelengkapan bukunya jangan ditanya deh. Makanya Langit suka banget mengerami buku di tempat ini. Aku mulai membuka halaman pertama novel The best of me. Dan dia _ kalian pasti sudah bisa menebaknya.

“kan akhirnya ada fakta alam yang ngebuktiin relativitas.” Dia mulai ngoceh.
“astronomi?” tanyaku
“iyalah Ra. Semenjak teori relativitas muncul banyak orang yang nggak percaya sama teorinya Einstein itu baru-baru ini aja NASA mulai bikin project buat nyelidikin lebih lanjut.” Jelasnya
“emang apaan sih? Kok aku nggak pernah tau.” tanyaku
“yee kamu mah mana tertarik baca beginian Ra. Palingan novel yang melankolis-melankolis gitu. Suka bikin pusing bacanya.”
“idih, itu opini sepihak yang bener-bener ngawur.” Kataku sebal.
“ini tentang geodesi sama frame-dragging. Jadi kayak jumlah struktur ruang-waktu yg terpilin akibat rotasi suatu massa.”
Aku mulai bingung. “terus intinya apa?”
“jadi bumi itu seakan-akan terbenam pada suatu benda seperti madu Ra.”
Aku mikir keras. Tapi memang sepertinya tidak tahu apa maksud Langit.
“kamu bingung Ra? udah nggak usah terlalu dipikirin.” Katanya santai
Aku pun sebenarnya tertarik dengan fisika atau ilmu alam lainnya tapi mungkin kemampuan otakku sulit untuk sekedar memahami gerak benda jatuh dari atas pohon.
Kami suka menghabiskan waktu ke toko buku, ke perpustakaan atau ke parangtritis – seperti hari ini hanya untuk melihat sunset atau kalau lagi beruntung bisa melihat evening triangle.

“Langit kenapa sih kamu terobsesi banget sama nobel? kan banyak orang yang nggak percaya atau mungkin mencibir mimpi kamu.” Tanyaku
Dia masih memegang kamera dan melihat hasil jepretan langit yang mulai berwarna jingga. “Kamu tahu kenapa orang Indonesia belom pernah ada yang dapet nobel?” dia bertanya padaku
“enggak.” Aku menggeleng
“karena mereka takut bermimpi Ra. Mereka cuman mencibir mencela pemimpi yang punya sejuta impian. Padahal yang dibutuhkan pemimpi itu cuman support.” Jelasnya.
“iyasih.” Kataku
“nah makanya Ra. Aku nggak pedulii orang bilang apa. Yang ngejalanin mimpi kan kita bukan mereka. So it’s shouldn’t be a lame.
Itulah Langit. Aku mungkin harus menjadikannya salah satu panutan untuk meraih mimpiku sendiri. Langit benar selama kita percaya dan berusaha segala ketidakmungkinan akan menjadi mungkin.

Beberapa bulan sebelum kelulusan seluruh warga sekolah mendapat berita, Langit mendapat beasiswa dari MIT untuk teknik fisika. Mungkin ada seorang guru yang mengirimkan hasil penelitian karya ilmiahnya atau mungkin ada pihak swasta yang mengajukan beasiswa untuk siswa yang juara astronomi nasional ini. Atau mungkin ini saatnya doa-doa Langit dikabulkan.
Aku sangat bangga padanya dan juga merasa sedih. Aku akan merindukan saat-saat kebersamaan kita Langit. Kebersamaan kita ke sunmor, membaca buku di hutan UGM, bersepeda ke Parangtritis untuk melihat sunset dan juga ocehan sainsmu. Semoga sel-sel tubuhku mampu beradaptasi tanpa kehadiranmu nanti.

Hari itu menjelang senja di hari kelulusan kami bersepeda ke Parangtritis seperti biasanya. Aku tidak tahu berapa lama hingga waktu membawa kita kesini lagi. Langit berdiri beberapa meter dariku – masih dengan seragam putih abu-abu dan tas ransel kusam itu.
Sejauh ini kami tidak pernah mempermasalahkan status hubungan kami. Kebersamaan saja sudah cukup. Tapi besok, lusa atau beberapa tahun ke depan mungkin semuanya tidak akan lagi sama seperti biasanya. Air mataku jatuh, aku akan selalu merindukan ini Langit.

“Miara kamu tahu isu tentang bintang Vega yang katanya bakal gantiin Polaris?” tiba-tiba ia menoleh ke arahku. Aku menggeleng.
“buat aku kamu itu Polaris Ra, nggak akan ada bintang yang bisa gantiin Polaris. Meskipun Vega sekalipun. Dan kamu tahu itu artinya apa?” ia tersenyum.
Aku menghapus air mataku “meskipun Polaris bakal hancur, meledak karena reaksi fusi mereka terlalu lemah. Polaris tetep hidup buat kamu?” tanyaku mengeja. Sekali lagi ia hanya tersenyum.
Semoga, semoga selamanya tetap begitu, Langit.

Yogyakarta, malam ini.
Aku menutup buku agenda yang selalu mencatat ketidakhadiran Langit disini. Juga berpuluh-puluh halaman diary tentang dia. Di saat aku melihat ke arah langit utara samar-samar terlihat konstelasi bintang tujuh yang menunjukkan arah Polaris. Dan itu dia. Polaris dengan cahayanya yang terang. Seolah memberiku sebuah jawaban. Tetaplah berharap. Langit, cepatlah kembali.

Cerpen Karangan: Erika Andini

17 Agustus 2013

Ratna dan Senja (Love, Circumstances and Loyalty)


Ratna dan Senja (Love, Circumstances and Loyalty)

dreamanzie

Suasana senja terlihat jelas dari jendela kamar Ratna yang berada di lantai 2 dari rumah kayu itu. Bagaikan melihat angkasa lepas beserta bintang tanpa teropong, alangkah bangganya kita melihat keindahan yang diciptakan Tuhan, yang dapat kita nikmati secara gratis. Cahaya orange bercampur merah, Ya Tuhan, itu bukti kalau Engkau adalah Maha dari segala hal. Leonardo DaVinci hanya 1 butir debu bagimu. Atau mungkin, 1 butir debu kemudian dipecahkan menjadi 9 butir debu dalam hal melukis.

Mata indah Ratna seolah-olah tersenyum lebar memandang suasana pedesaan yang terlihat jelas dari jendela kamarnya. Wajahnya yang cantik meski sudah berumur 58 tahun, mungkin jadi bahan perbincangan burung-burung yang sedang bertengger di pohon rindang itu, karena terdengar kicauan burung itu yang saling menyahut. Kebun jambu dan ladang jagung yang luas tetapi belum berbuah, membuat dia termakan oleh kenangan. Terlebih lagi saat dia melihat sebuah gubuk di sebuah sawah milik tetangga, dia menangis.

“Sore istriku, aku bawa sesuatu untukmu. Aku harap kamu suka”.

Suami Ratna tiba-tiba memeluk mesra tubuhnya yang duduk di kursi roda sejak tadi, sambil meletakkan sebuah kantong plastik putih di pangkuan Ratna.

Ratna hanya membalas dengan matanya yang damai dan bahagia luar biasa. Bisa jadi itu ungkapan terimakasih. Tapi siapa yang bisa membedakannya, hanya suaminya lah yang mengerti.

“Ayolah, jangan menangis lagi. Lihat diri kita Ratna. Rambutku sudah memutih semua. Rambutmu juga. Kulitku sudah mengelupas, kamu juga. Jika kamu harus bersedih mengingat kebersamaan yang dulu sangat enerjik, kamu telah salah jika menuangkannya selalu dalam tangisan”.

Ratna diam, tetap memandang pemandangan desa lewat jendela, sambil menggenggam tangan suaminya yang sudah selama ini setia mendampinginya dari muda sampai tua seperti ini, dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau begitu, sebelum aku memberitahukan apa yang aku bawa untukmu ini, aku ingin sekali bercerita denganmu tentang apa yang kita lalui selama ini. Suka, duka, kecewa, putus asa, harapan dan banyak sekali kenangan indah yang kita lalui bersama-sama sampai sejauh ini”.

Ratna mengacungkan jempol kirinya, menandakan dia juga ingin sekali mendengar Suaminya itu bercerita.

“Aku hanya terbawa suasana senja yang membuatku teringat sesuatu yang indah-indah sebelumnya. Kemudian aku selalu memejamkan mata dan kamu selalu menggenggam tanganku seperti ini. Ya, disaat senja seperti ini. Kamu ingat?”.

Suaminya berbicara dengan senyuman yang menyegarkan hati siapapun yang melihatnya.

“Apalagi disaat kamu jarang berbicara akhir-akhir ini, aku jadi rindu masa-masa indah yang kita jalani dulu. Namun bukan maksudku untuk mengira masa-masa sekarang ini tidak indah. Bahagiaku justru bertambah karena kita bisa bersama-sama sampai sosok kita benar-benar berubah menjadi orang tua. Dan kita masih menerima 1 sama lain. Aku sungguh bangga mengenalmu, Istriku.

Masih ingat tidak, saat aku menabrakmu di perpustakaan sekolah sampai 7 buku yang sedang kamu pegang itu jatuh ke lantai semua?”

Suaminya memandang Ratna dengan senyum lepas memperlihatkan gigi palsunya yang putih.

“Aku tidak menyangka itu bisa menjadi momen yang tidak pernah bisa aku lupakan sampai saat ini. Ya, seragam putih abu-abu adalah kenangan kita yang tidak akan pernah sirna dari pikiran. Aku rasa kamu juga begitu kan Ratna?”.

Ratna tetap terdiam, sepertinya asyik sekali mendengar suaminya bercerita tentang kehidupan di masa lalu.

“Setelah kejadian itu, aku selalu termenung di jendela kamarku, terutama saat senja seperti ini. Karena aku merasakan ada sebuah arti dari pertemuan pertama kita, entah itu hanya perasaan yang wajar karena kita masih sama-sama beranjak dewasa atau benar-benar keyakinan dari hati yang paling dalam. Tetapi yang ku tahu, perasaan ini terus melekat, enggan untuk melepaskan diri.

Setiap di sekolah, aku selalu menanti kamu lewat depan kelasku saat bel istirahat. Setelah kamu lewat, aku diam-diam mengikutimu dari belakang, dan terus berusaha untuk tidak terlihat olehmu. Mengapa aku lakukan itu? Karena kamu tahu kan, aku begitu penakut, pemalu dan pendiam. Apalagi dengan perempuan yang cantik sepertimu. Semua laki-laki menyukaimu sepertinya. Dengan rambut lurus pendek sebahu, warnanya hitam pekat menunjukkan rambutmu terawat dan sangat halus. Matamu yang bersinar, cerah dan tajam saat memandang, tetapi sayu. Senyummu bisa membuat lubang di kedua pipimu itu, apalagi sampai terlihat gigi gingsulmu itu, semakin menawan saja kamu Istriku. Laki-laki mana yang bisa menahan untuk tidak berkedip saat melihatmu.

Sampai saat aku ketahuan karena membuntutimu terus, dan kamu memergokiku yang sedang memindik di balik dinding antara kantin dan kelas. Jangan tertawa dulu ya Ratna, memang saat itu aku sungguh malu sampai wajahku berwarna merah seperti sedang di lumuri saus tomat. Aku kira kamu bakal marah karena ulahku itu. Tapi ternyata kamu begitu baik. Kamu malah mengajakku minum es kelapa bersama sambil bercakap-cakap. Ya Tuhan, betapa senangnya aku Ratna. Do’aku disetiap senja ternyata terkabul.

Awal kedekatan kita berlanjut dari es kelapa ke moccacino. Dari anak sekolah ke perguruan tinggi. Tapi sayangnya saat itu hanya aku saja yang diberi kesempatan untuk merasakan duduk di bangku perguruan tinggi, mungkin kamu memang di takdirkan untuk mencintai alam. Kamu bekerja di toko bunga milik ayahku, sampai ayahku sangat menyukai kamu Ratna. Ayah sering membicarakanmu saat aku sedang makan malam bersamanya. Katanya kamu anak yang baik dan bermoral. Aku adalah lelaki paling beruntung yang pernah ada karena bisa mengisi hati kamu, kata Ayah. Ah, Ayah memang selalu baik padaku. Aku yakin itu hanya kata-kata yang dimaksudkan untuk memotivasiku agar semakin berprestasi.

Tetapi pikiran semacam itu hilang saat aku menyelesaikan kuliahku, dan Ayah bilang padaku kenapa aku tidak menikahi kamu, Ratna. Aku sudah cukup siap untuk menikah. Ya Tuhanku, apa aku sedang dalam keadaan bermimpi atau setengah sadar atau memang benar-benar sadar? Aku ingat betul kata-kata Ayah. Kamu adalah perempuan yang akan membuatku bergembira tiada habisnya. Karena terlihat dari kebersamaan kita yang tidak pernah hilang dari awal kita bertemu. Mendengar ucapannya yang meyakinkan itu, aku berniat melamarmu Ratna. Dan kita akan menikah. Tetapi kebahagiaanku tidak berlangsung lama sampai pada ayahku terkena penyakit Jantung dan meninggal 14 hari sebelum hari pernikahan kita”.

Mata Suaminya mulai berkaca-kaca. Seperti hendak menangis tapi tak ingin.

“Saat itu aku sungguh tidak bisa membedakan antara suka dan duka. Antara kehilangan dan baru menemukan. Antara tangis dan tawa. Ayah adalah orang tuaku yang tersisa. Ibu telah lama meninggal, lebih tepatnya saat aku masih berusia 5 tahun karena penyakit paru-paru. Jadi, apakah ada seseorang yang bisa melewati begitu saja kematian orang tua yang disayangnya dengan perasaan yang biasa-biasa saja? Pasti takkan mampu. Begitupun aku. Tetapi aku sadar akan sesuatu, kehidupanku bukan berarti harus selalu larut dalam kesedihan. Memang telah waktunya Ayah untuk menghadap sang Khalik, dan aku tidak ada kemampuan apa-apa untuk mencegah.

Kamu lah yang telah membantuku keluar dari kesedihan yang hampir mendominasi pikiranku. Kamu lah yang membuatku mengerti, bahwa tidak seharusnya kita membiarkan kesedihan terus menerus masuk ke dalam tingkatan yang berlebihan. Kamu lah yang mengajariku kalau kontrol diri akan semakin hilang jika kita tidak menyadari dan terus membiarkan kesedihan menguasai diri kita. Aku tidak ingin itu terjadi dan yang pasti itu dapat merusak hubungan yang kita jalani selama ini. Aku tidak boleh mencampur adukkan masalah kesedihan dengan kebahagiaan yang telah terlihat di depan pelipis”.

Mendengar perkataan Suaminya yang seperti itu, Ratna sedih bukan kepalang. Air mata keluar deras dari matanya, dan tak bisa berkata apa-apa.

“Hei, Aku tidak bermaksud membuatmu menangis Ratna. Tunggu sebentar, Aku harus mengusap pipimu dengan tissue”.

Ucapan mesra itu memang selalu terdengar dari seorang Suami yang sangat menyayangi Ratna itu. Dia berdiri, berjalan menuju lemari kayu tua di samping tempat tidur dan mengambil tissue.

Suaminya segera menyeka air mata Ratna yang keluar deras dengan Tissue. Dan kembali duduk di samping ratna.

“Aku jadi rindu di saat-saat setelah kita menikah. Aku heran mengapa kita tidak pernah meributkan sesuatu yang seharusnya menjadi ritual mutlak bagi pasangan suami-istri yang baru menikah. Semuanya terasa sangat menyenangkan, padahal aku sendiri pun jarang mengucapkan kata cinta kepadamu. Entahlah, menurutku sebuah janji yang hanya diucapkan bibir tidaklah bermakna apa-apa dibandingkan aku memperlihatkan sebuah kesetiaan dan kasih sayang melalui apapun yang aku perbuat. Aku hanya merasa tidak jauh beda seperti pujangga yang sangat pintar menulis kata-kata cinta yang syarat dengan arti, jika aku hanya mengucapkannya melalui bibir tanpa tindakan. Karena aku merasa, aku bukanlah pujangga yang sedang dibicarakan ini. Aku adalah seseorang yang ditakdirkan untuk selalu bertanggung jawab, dan tanggung jawab itu takkan terealisasi jika hanya dengan ucapan.

Setiap senja kita selalu pergi ke gubuk di tengah sawah itu. Kita membawa rantang berisi makanan yang telah kamu buat untuk menyambut aku pulang bekerja. Ya, setiap senja pula kita selalu berdoa di gubuk itu sambil menyapa beberapa orang petani yang lewat, sambil melihat kerbau yang tengah membajak sawah. Tetapi ada 1 do’a kita yang mungkin tidak tersampaikan kepada Tuhan. Bahwa kita tidak akan mendengar suara tangis bayi dirumah. Kita tidak akan menggendong seorang bayi di kamar kita. Ya, kamu mempunyai sedikit masalah kecil di rahimmu yang membuat kamu tidak bisa hamil. Aku melihat kamu begitu sedih saat kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan masalah ini dan kamu mendengarnya.

Setiap hari yang kamu lakukan hanya melihat keluar jendela, mungkin kamu menyangka aku akan kecewa bukan? Tidak Istriku, bahkan tidak ada 1 butir debu kekecewaan yang menempel di dalam lubuk hati. Kita akan terus berbahagia walaupun tanpa kehadiran bayi di dalam hidup kita. Dan aku akan tetap ada untukmu. Bagaimanapun kondisinya, seberapa lama dan tidak peduli seberapa jauh. Aku yang kembali mengingatkanmu akan sebuah kata-kata yang kamu ucapkan. Kamu lah yang membuatku mengerti, bahwa tidak seharusnya kita membiarkan kesedihan terus menerus masuk ke dalam tingkatan yang berlebihan.”

Ratna dan suaminya semakin mengeratkan genggaman setelah suaminya berbicara seperti itu. Merasa bangga akan kesetiaan suaminya sampai dengan saat ini.

“Hari demi hari kita melaluinya dengan berdua. Membersihkan rumah, memasak, merawat kebun, pergi ke gubuk di tengah sawah itu, dan banyak hal lain yang kita jalani dengan sangat menyenangkan. Kita telah menikmati hidup yang luar biasa. Kita telah mendapatkan makna hidup yang sesungguhnya melalui kebersamaan. Setiap pagi kamu memakaikan aku dasi, dan pagi berikutnya, berikutnya, berikutnya, berikutnya, dan disaat kamu menyuruhku melihat cermin untuk melihat dasi itu terpasang dengan rapi atau tidak, aku dan kamu telah berubah menjadi sosok kakek dan nenek. Kamu memakaikan kacamata tebal milikku, kemudian aku berangkat bekerja.

Meskipun di masa tua seperti ini, kita tetap berbahagia. Membersihkan rumah, memasak, merawat kebun, dan banyak hal lain yang kita lakukan dengan rasa gembira yang luar biasa. Tetapi saat aku dan kamu pergi ke gubuk itu, kamu mengeluhkan sesuatu. Kamu merasakan sakit yang tidak biasa di seluruh tubuhmu. Aku langsung membawamu kerumah sakit, dan aku tidak menyangka itu adalah kunjungan terakhir kita ke gubuk yang penuh akan kenangan indah.

Selama dirumah sakit kamu tidak menunjukkan tanda-tanda akan membaik, malah makin memburuk dengan tidak bisanya kamu menggerakkan anggota tubuhmu yang sebelah kanan. Ya Ratna, kata dokter kamu terkena penyakit Stroke. Ketika mendengar ini aku melamun beberapa saat, dan air mataku keluar begitu saja. Seakan tidak menerima kenyataan yang telah aku dapat. Kamu tidak dapat berbicara lagi, kamu tidak bisa pergi ke gubuk lagi, dan kamu tidak bisa merawat kebun Jambu kita lagi. Kamu hanya bisa menatap, hanya melalui matamu lah aku mengerti”.

Suaminya mengeluarkan air mata tanpa bisa dicegah. Ratna pun tak bisa melakukan apa-apa selain menggenggam erat tangan suaminya sambil menangis.

"Sesuatu yang indah mungkin sudah tidak bisa lagi kita lakukan. Semuanya sudah aku tukar dengan uang untuk biaya rumah sakitmu yang membludak. Aku di keluarkan dari tempatku bekerja karena sering tidak masuk kerja, aku lebih memilihmu Istriku. Namun karena keluargamu dan keluargaku pun ikut membantu biaya rumah sakit, kamu bisa di rawat jalan. Kamu bisa pulang Ratna. Karena tagihan sudah terbayar semuanya. Tapi, hanya beberapa hari aku berada dirumah lagi bersamamu, aku sudah merasakan ada yang tidak beres dengan dadaku. Suatu hari tetangga kita mendapatkanku tengah terkapar di ruang tamu, dan langsung membawaku kerumah sakit.

Aku dirawat dirumah sakit dengan ditemani oleh adikku, dan kamu berada dirumah dengan adikku yang 1 lagi. Tapi, dengan berada dirumah sakit ini bukan berarti mereka menjamin akan membuatku sembuh kembali kan? Aku pergi meninggalkan kamu Istriku, dan setumpuk kenangan manis yang selama ini kita bina dan kita jaga. Aku meninggalkan rumah kita yang indah itu. Rumah yang berisi suka, duka, harapan dan banyak lagi hal-hal yang lain. Aku meninggalkanmu sendiri, tanpa sesosok Suami yang selama ini sudah setia menemanimu”.

Ratna menangis dan terus mengeluarkan air matanya tanpa tahu dia harus berbuat apa-apa. Dia hanya perempuan yang lumpuh, tidak bisa berjalan, bahkan berbicara. Dia begitu sedih melihat arwah Suaminya datang mengunjunginya disaat yang tepat. Ingin berbicara, tapi dia tak mampu. Ingin mencurahkan rasa rindu, dia tidak bisa. Hanya bisa duduk diam di kursi roda.

Arwah suaminya pun secara perlahan-lahan hilang dari penglihatan. Dengan meninggalkan bungus plastik berwarna putih di pangkuan Ratna. Ratna segera meraih bungkusan itu dengan tangan kirinya, dan ternyata ada sebuah kotak. Dia pun membukanya dan mendapatkan sebuah surat, kemudian dia membacanya.

Dear Ratna

Untuk semua yang telah kamu lihat, dan untuk semua yang telah kamu dengar, itu semua terukir di dalam pikiranku. Rasakanlah, aku berbicara melalui kata-kata ini. Apa yang telah aku ambil, adalah apa yang telah kamu tinggalkan. Kita kembali berbagi di dalam 1 keabadian, hidup di 2 pikiran. Dihubungkan oleh benang tak berujung, dan tidak mungkin untuk beristirahat.

Happy Anniversary, untuk ulang tahun pernikahan kita yang ke 38 tahun.

From : Love, Circumstances and Loyalty

Back To You






Buliran air menetes satu per satu terjun melewati ujung daun karena hujan telah cukup lama membasahi dunia ini. Langit masih kelabu dan kemungkinan akan hujan lagi, Ahh, rasanya tak mungkin. Karena hujan telah turun selama 3 jam.

Semenjak hari yang sangat kelam itu, aku masih terpuruk dalam keadaan yang selalu membuatku tercekat dan sesak nafas. Saat kata-kata itu terlontarankan dari mulutnya. “Maaf aku tak bisa melanjutkan hubungan ini!” Karena apa? Kau tak boleh langsung pergi! Kau harus menjelaskan padaku! Jangan membuat aku bingung! Tapi, apalah usahaku. TAK MUNGKIN BERHASIL.

Aku masih duduk menatap suasana luar dari sebuah jendela kayu kamarku. Sebenarnya aku tak melihat pemandangan itu. Pandanganku hanya KOSONG. Aku masih memikirkan kejadian itu. Kenapa aku tak bisa melupakannya? Apa aku terlalu mengharapkannya? Dina ayo move on dari dia!!! Kamu gak boleh mengharapkannya!!! Hanya ucapan itu yang sejenak menyemangatiku.

Lamunan itu telah hancur, karena terasakan olehku tepukan tangan yang menepukkan ke bahuku secara perlahan. Aku mendongak dan menatapnya. Orang itu tersenyum ke arahku. Wajahku yang sembab dan air mata itu masih sedikit mengalir. Aku langsung mengusapkannya dengan tanganku. Orang itu merangkulku. Terasa hangat dan sangat hangat. Andaikan dia yang sekarang memelukku?.

“Din, kamu gak boleh sedih terus kayak gini. Kamu harus bisa move on dari dia!” ucap Orang itu yang aku anggap sebagai sahabatku. Keke.

“Tapi, pikiranku masih terus mengingatkanku padanya. Aku belum bisa!” ucapku sembari terisak lagi.

“Kamu pasti bisa. Percayalah padaku!” Ucap Keke meyakinkanku.

—

Hari ini aku mencoba untuk memulai hari-hariku lagi. Hari-hari yang dulu aku aku jalani sebelum ada kehadiran lelaki itu dalam hidupku. Rasa perih dalam hati ini masih sangat terasakan. Sebenarnya aku tak kuasa untuk menahannya. Tapi, aku harus kuat! Aku tak boleh terlalu lemah!

Kaki ini menuntunku berjalan menyusiri koridor sekolahan. Sejenak aku memalingkan pandanganku ke arah lapangan basket itu. Tapi, dimana dia? Aku tak melihatnya. Aku mohon kau jangan sembunyi! Walau hati ini masih terasa tersayat, aku masih sanggup untuk melihatmu. Aku mohon tampakkanlah wajahmu!

Wajahku masih terlihat suram, Aku berjalan gontai masuk ke dalam kelas. Aku duduk melamun, dan menyendiri. Itulah yang aku lakukan disana. Keke menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Din, apa kamu benar-benar sudah sanggup untuk kembali menjalani hidup ini?”

“Aku sanggup bagaimana pun ini adalah jalan hidupku. Aku tak boleh terpuruk disini. Aku harus bisa bertahan walau tanpa kehadirannya.”
Pelajaran hari ini sudah dimulai. Aku tak bisa menangkap satupun pelajaran yang diberikan. Otakku sudah penuh tentang kenangan-kenangan bersamanya. Waktu perlahan terus berjalan tapi, pikiranku masih berhenti dalam suatu kejadian yang sampai saat ini masih membuatku bertanya-tanya.

FLASH BACK ON

Matahari sudah muncul mengantikan rembulan. Semakin tinggi, semakin tinggi. Aku masih duduk di depan meja belajarku menatap sebuah ponsel yang aku tunggu-tunggu untuk berbunyi. Kenapa sampai saat ini dia belum meneleponku? Biasanya jam segini dia sudah menanyakan padaku. Sudah makan belum? Lagi apa? Aku sangat merindukan pertanyaan-pertanyaan itu.

DRRTTT… DDDRRRTT…

Ponselku bergetar! Aku langsung bergegas meraihnya dan mengangkatnya. Aku melihat layar ponselku dan ternyata benar dia meneleponku! Seketika itu hatiku yang penuh dengan penantian, berubah menjadi berbunga-bunga.

“Halo,”

“Nanti sore kamu ada acara?”

“Tidak, emangnya kenapa?”

“Aku mau ketemu kamu di tempat pertama aku menyatakan cintaku padamu.”

—

Senja, Awan berwarna oranye dan sinar matahari yang mulai meredup. Itulah penggambaranku tentang keadaan sore ini. Aku berjalan ke arah lapangan bola basket sekolahku tempat dimana aku dan dia menyatakan cinta. Aku melihat sosoknya. Sosok yang membuatku tekagum-kagum padanya. Dia berdiri disana! Mengenakan kaos putih dan celana jeans panjang hitam. Aku menghampiri sosok itu.

“Panji, kamu udah nunggu lama?” Tanya ku.

Panji adalah panggilan pasangan hidupku itu. Panji Dhewa Saputra. Ia tak menjawab apa-apa dia langsung memegang erat kedua tanganku itu. Aku dan dia saling bertatapan. Tapi, pandangannya terhadapku aneh, tak seperti biasanya. Panji menghembuskan nafas perlahan.

“Din, Maaf aku tak bisa melanjutkan hubungan ini!” ucapnya
Waktu terasa berhenti berjalan, jantungku berhenti berdetak, nafasku tercekat, Aku melepaskan genggamannya dan berlari tanpa arah Air mataku terus menetes seiring aku berlari. Aku masih Tak percaya? Kenapa dia tak mengejarku? Apa dia sudah tak mencintaiku? Aku berharap dia mengejarku dan menjelaskan semua alasanya. Tapi, TIDAK!. Dia tak mengejarku sama sekali!

FLASH BACK OFF

Matahari sudah berada di atas kepala. Bel pulang sekolah juga sudah berbunyi. Biasanya dia menjemputkku disini. Tapi semua itu hanya kenangan. Aku mulai menitikkan air mata mengingat kenangan itu lagi. Aku masih belum sanggup.

—

Hari minggu ini masih terasa hampa tanpa kehadirannya. Aku masih belum bisa move on dari darinya. Mungkin dengan rencanaku ini aku bisa melupakannya dan mencari penggantinya. Aku sibuk membereskan barang-barangku dan memasukkannya dalam sebuah koper besar. Keke hanya melihatiku.

“Din, apa keputusanmu sudah bulat untuk meninggalkan kota Jakarta ini?”

“Aku yakin, aku harus move on dari dia. Kalau aku disini aku takkan bisa melupakannya.”

“Kamu gak bawa foto, Panji?”

“Untuk apa? Aku mau benar-benar move on!”

Aku menarik koper besar itu keluar dari rumah besarku. Aku membuka pintu mobil itu. Terlihat sebuah bayangan kecil sosok Panji disana. Aku coba menghampirinya perlahan ke arah sosok itu.

“Panji?”

Wajah itu menoleh ke arahku. Iya benar itu Panji. Tapi kenapa dia mengacuhkanku? Kenapa dia juga tiba-tiba datang kesini. Aku masih berkutat dalam pertanyaan-pertanyaan itu. Setelah aku tersadar kembali sosok Panji sudah hilang entah kemana. Apakah itu benar-benar Panji atau hanya sebuah ilusi?

Aku kembali berjalan mendekati mobil yang membawaku ke luar kota. Aku memeluk erat sahabatku tanda perpisahan. Tapi, sahabatku itu masih terheran-heran perilaku ku tadi.

“Din, tadi ngapain kamu kesana?”

“Oh bukan apa-apa tak usah dipikirkan. Tolong jangan pernah lupakan aku karena kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Suatu saat nanti aku pasti kembali kesini.

—

Kota Solo adalah kota pilihanku saat ini, untuk menghilangkan kenangan-kenangan bersama Panji. Udaranya sangat sejuk, suasana tenang. Aku berharap aku bisa perlahan melupakan kenangan itu. Banyak orang-orang baru yang kutemui dan orang itu asing semua dan mulai detik ini aku mencoba untuk sedikit demi sedikit kenangan tentangnya.

—

Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci

Bertanya, cobalah bertanya pada semua
Di sini ku coba untuk bertahan
Ungkapkan semua yang ku rasakan

Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku

Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya

Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci

Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya

Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya

Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya

Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku

—

2 tahun telah berlalu, itulah waktu yang aku gunakan untuk melupakannya. Tapi, itu semua tak berhasil ingatanku tentang dia masih terekam jelas dalam pikiranku. Apakah dia begitu penting dalam hidupku?

Aku kangen dengan suasana Jakarta yang sangat berbeda seperti disini, Aku ingin kesana. Tapi, itu artinya aku harus rela ingat dengan memoriku kembali. Tapi mungkin tak sesakit dulu.

Perjalanan panjang telah ku tempuh menuju kota Jakarta. Suasana ramai dan panas inilah yang aku rindukan. Kemacetan yang terus merajalela juga masih terlihat. Tidak ada yang berubah selama 2 tahun ini. Begitu juga perasaanku padanya. Aku rindu dengan rumahku, sekolahku dan tentunya ‘DIA’ .

Mobil yang membawaku ke Jakarta sudah tepat berhenti di depan rumah. Keke juga sudah tampak berdiri disana. Aku menghampirinya dan memeluk erat tubuh Keke. Perlahan Keke melepaskan pelukan itu.

“Din, apa kamu sudah bisa melupakan nya?”

“Masih belum.” ucapku sambil menampakkan wajah yang masam

“Setelah 2 tahun kau meninggalkan kota Jakarta ini, kamu belum bisa melupakannya?”

“Iya. Aku mau masuk ke dalam. Aku capek.”

—

Senja…
Saat matahari mulai membenamkan wajahnya
Digantikan oleh bulan yang menyinari Jagat raya
Aku masih ingat tentang semua kenangan
Kenangan kita bersama
Disini..
Di lapangan basket ini
Setelah 2 tahun aku berusaha
Melupakanmu
Tapi, hasilnya tetap nihil
Memori itu sudah mendaging dalam otakku
Kini aku sadar hanya kamu
Yang dapat mengisi hatiku
Dan tak ada orang lain yang dapat menembusnya.

Aku duduk terdiam di pinggiran lapangan basket ini. Kenangan itu masih terekam jelas. Aku masih mengharapkanmu hadir mengisi hari-hariku. Aku sadar kalau hanya kamu yang dapat mewarnai hariku. Aku mohon kembalilah padaku. Aku tak bisa hidup tanpamu.

Aku merasakan sebuah tepukan mendarat di bahuku. Aku mendongak dan menatapnya. Aku benar-benar tak percaya! Sekarang dia benar benar ada di sampingku. Aku melihat wajahnya. Dia tersenyum padaku! Senyuman itu membuatku terhibur, tenang dan air mataku mulai mengering di gantikan oleh sebuah senyuman.

“Din, kamu jangan nangis, kamu gak boleh nangis!”

“Panji?”

Hanya kata-kata itu yang dapat terucap dalam bibirku. Reflek aku langsung merangkul Panji disana. Panji membalasnya. Hatiku tenang, nyawaku hidup kembali, kehidupanku kembali!!

“Din, maafkan aku, aku telah membuatmu tersiksa. Maafkan aku telah memutuskanmu waktu itu. Sebenarnya aku hanya ingin intropeksi diri dan mengujimu. Apakah aku pantas ada di sisimu? dan apakah kamu akan cepat mendapatkan penggantiku? Ternyata tidak kau masih mengharapkanku. Aku juga masih cinta sama kamu. Aku tak rela untuk melepasmu lagi.”

“Aku juga mencintaimu, Panji.” ucapku lirih dalam pelukan Panji.

THE END

Cerpen Karangan: Diana Kusuma Astuti

20 Ribu Untuk Kebenaran

20 Ribu Untuk Kebenaran

Cerpen Karya

Dreamanzie, Kopaja, Desember 2011 14.35 WIB




Berbagai aroma tubuh dan bau mulut bercampur aduk tercium di Kopaja yang sedang aku tumpangi ini. Penuh sesak tidak aku hiraukan, karena dalam beberapa menit lagi, mata kuliah Pemrograman Web akan dimulai. Quota absen yang di berikan sebanyak empat kali, telah aku gunakan empat-empatnya. Itu berarti jika aku tidak hadir lagi, aku akan mengulang mata kuliah ini semester genap yang akan datang. Tapi entah kenapa, aku selalu optimis tidak terlambat kalau menumpang Kopaja. Karena yang aku tahu benar tentang Kopaja, mereka adalah Raja Jalanan dan tentu saja selalu cepat.

***

Suatu hari aku pernah melihat seorang wanita kantoran berbicara kepada kernet tentang kapasitas bis yang sudah melebihi batas. Wanita itu duduk di tengah, sementara penumpang lain yang berdiri terus bertambah dan semakin menyulitkan untuk bernafas. Kemudian wanita itu memaksa untuk turun. Berdesak-desakkan menerobos penumpang yang sedang berdiri. Aku mengintip di sela-sela tubuh para penumpang yang lehernya telah basah berkeringat, dan melihat wanita itu sedang muntah di pinggir jalan.

Sesaat setelah wanita itu turun, kernet yang berlogat Batak itu berbicara keras sambil memegang uang kertas yang di susun sangat rapi "Kalo numpang jangan banyak ngatur. Gak seneng ya turun. Orang kaya kenapa gak naek bis sebelah tuh, TransJakarTai". Semua penumpang tak ada yang peduli dengan kata-kata si kernet batak itu. Dan yang paling penting dari kata-kata itu, aku paham betul apa yang paling di benci oleh kernet dan supir Kopaja. Ternyata TransJakarta. Aku yang sedang berdiri hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata si kernet. Aku selalu mengingat-ingatnya untuk aku tulis di tulisanku, dan sekarang inilah cerita itu aku ceritakan kembali.

***

Aku berdiri lagi dan memang selalu begitu. Kernet mulai mengecrek-ecrek uang logam, tanda untuk meminta ongkos. Terasa jari tangannya mencolek bahuku. Aku menengok, dan aku melihat si kernet yang tersenyum. Tidak seperti biasanya. "Ongkosnya mas" pintanya halus, dengan logat Jawa tulen.

"Oh iya bang, sebentar" Aku merogoh kantong celanaku dan tidak ada receh. Terpaksa aku memberikan uang dua puluh ribu "Gak ada receh Bang".

"Yaudah gapapa nanti di kembaliin" kata si kernet.

Kernet itu berdesakkan lagi untuk meminta ongkos kepada penumpang bis yang sudah penuh sesak. Di tambah si supir yang ugal-ugalan mengendarai bisnya, menyulitkan si kernet untuk melangkah karena selalu ingin jatuh. Setelah kernet itu sudah berada di depan bis, aku ingat kejadian satu tahun yang lalu. Aku pernah memberikan uang dua puluh ribu, tetapi si kernet tidak mengembalikan uang kembalian ongkos. Saat itu aku sedang UTS mata kuliah Aplikasi Komputer, tetapi aku tidak pernah sampai ke kelas itu. Sesaat setelah aku turun dari Kopaja, aku hanya duduk terdiam di pos polisi pertigaan Green Garden. Menunggu temanku datang untuk menjemputku dan mengantarkanku pulang, karena aku tidak punya ongkos lagi.

***

Kejadian itu terjadi satu tahun yang lalu. Saat itu hujan mengguyur bis Kopaja yang aku tumpangi dari Kalideres menuju Green Garden. Sedangkan aku sedang berpikir, bagaimana caranya aku bisa sampai ke sebrang jalan dan naik angkot lagi tanpa terguyur hujan. Si kernet menyolek bahuku "Ongkos ongkos!" katanya kasar dan tanpa senyum sedikitpun.

"Sebentar bang" jawabku kesal sambil merogoh kantong celana dan membayar ongkos dengan uang dua puluh ribu "Gak ada receh" aku melihat matanya tajam.

"Yaudah ntar kembaliannya" ucapnya sinis.

Saat itu aku hanya memikirkan tentang soal UTS nanti. Menebak-nebak kira-kira soal yang keluar nanti apakah yang telah aku pelajari di rumah atau bukan. Belum lagi masalah hujan, bagaimana aku sampai ke sebrang jalan tanpa basah kuyup. Jadi aku lupa dengan uang dua puluh ribu itu. Ah, kupikir si kernet itu akan mengembalikannya. Aku melihat suasana bis yang mulai sepi dan melihat bapak-bapak sedang membaca koran di bangku paling belakang. Aku melihat headline koran itu "SUAP MULUT: Trend Menutup Kebenaran di Indonesia". Aku sedikit terkikik, serendah itukah harga kebenaran di Indonesia sehingga bisa di ultimatum dengan kata "UANG"?

Aku belum ingat tentang uang dua puluh ribu yang belum di kembalikan. Kulihat si kernet sedang berteriak "Lipi..Lipi..Lipi". Tetapi aku harus turun dari bis sekarang juga karena sudah sampai tujuanku. Sebenarnya aku tidak bodoh kalau saat itu aku turun begitu saja untuk mengejar angkot di seberang jalan. Karena kalau tidak aku kejar, aku akan telat, pasti. Dan akupun turun, tetapi si kernet tidak sama sekali membahas tentang nasib kembalian ongkos. Aku melihat Kopaja itu berlalu indah dengan suara mesin rongsoknya yang gagah. Aku periksa kantong celanaku untuk memastikan ada uang receh untuk naik angkot selanjutnya. Dan aku baru ingat "Aku hanya membawa uang dua puluh ribu, KAMPRET!".

Aku berjalan menuju pos polisi di pertigaan Green garden dengan wajah tertunduk bingung "Ke Kampus naik apa? Jalan kaki?" begitulah pikiranku. Saat itu memang aku panik, tapi sengaja aku berlaga seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Aku sibuk menelepon teman-teman kampusku, tetapi tak ada jawaban. Aku ingat lagi, "apakah seekor cicak telah jatuh di kepalaku kemarin?". Setelah aku sampai di pos polisi, aku langsung duduk. Melihat tiga orang polisi sedang mengatur lalu lintas, karena lampu lalu lintas mati. Lalu temanku mengirim SMS "Ji, kelas udah mulai lu dimana?".

Aku membalas "Selesai UTS, lo jemput gue di pertigaan Green Garden. Nanti gue ceritain". Aku langsung menaruh handphone di ransel.

Tak lama, kemudian salah seorang polisi menghampiriku "Mau kemana dek?" tanyanya ramah.

"Mau ke kampus pak" jawabku lemas.

Polisi itu meneguk segelas kopi, "Kok daritadi gak berangkat-berangkat?" dia menaruh gelasnya.

"Uang Saya ketinggalan di Kopaja pak".

"Loh kok bisa?"

"Saya lupa minta kembalian" aku tertunduk, tersenyum malu.

"Lain kali sediakan uang receh. Kernet itu girang kalo ada penumpang yang memberikan uang ongkos yang besar" katanya, sambil menunjuk-nunjuk bis Kopaja yang lewat.

"Iya pak, Saya ceroboh banget hari ini" aku masih tertunduk sambil menggaruk kepala. "Tapi gak apa-apa pak, hitung-hitung ingin mencari tahu kalo kernet Kopaja itu jujur atau enggak".

"Lalu, bagaimana kesimpulannya?" tanya polisi itu.

"Ya tidak selalu jujur" jawabku.

"Berarti, kamu rela membayar dengan seluruh uang jajanmu untuk membuktikan kebenaran?"

Aku terdiam, aku tak mengerti maksud Pak Polisi itu.

"Kadang, kebenaran itu bisa terbunuh dengan uang" kata Pak Polisi itu sambil berlalu meninggalkanku untuk mengatur lalu lintas lagi sambil menaik-turunkan alisnya yang kanan beberapa kali.

***

Tidak terasa sudah lama aku melamun memikirkan kejadian satu tahun lalu. Dimana sedikitnya aku mengerti tentang kernet Kopaja. Dan aku juga mengerti tentang kebenaran yang mempunyai harga. Aku langsung mempunyai strategi, aku akan berpura-pura lupa untuk meminta kembalian ongkos. Sehingga aku bisa memastikan tingkat kejujuran dari kernet Kopaja, sekali lagi. Si kernet mengetuk kaca pintu Kopaja dengan uang logam "Garden...Garden...Garden" itu tandanya aku harus segera turun. Aku pakai switerku, aku pakai topi dan aku bersiap untuk turun. "Bang..Bang, Green Garden".

"Iya...iya depan dikit dek" kata si kernet. Kemudian dia melihatku "Ini kembaliannya dek. Kan belum di kembaliin".

Aku langsung tersenyum mendengar suaranya yang berlogat Jawa "Oh iya bang, Saya hampir lupa"

Dia menghitung-hitung uang yang akan di kembalikan kepadaku "Nih dek kembaliannya. Turun disini?" tanyanya.

"Makasih ya Bang. Iya disini" jawabku.

Dia langsung mengetuk kaca pintu dengan cepat "Kiri...kiri...kiri" teriaknya.

Aku pun langsung turun dengan wajah sumringah. Bukan karena aku naksir dengan si kernet itu. Tapi, karena aku masih bisa melihat kernet kopaja yang jujur. Meskipun seluruh masyarakat Jakarta tahu, kernet dan supir kopaja adalah preman, dan seluruh masyarakat Indonesia tahu, preman itu jahat, tetapi aku bisa membuktikannya langsung, kalau tidak semua masyarakat Indonesia -khususnya supir dan kernet kopaja- yang bersikap curang dan korup. Masih ada orang yang sangat menghargai kebenaran milik orang lain, meskipun aku harus mengeluarkan uang dua puluh ribu untuk taruhannya.

Dreamanzie, Kopaja, Desember 2011 14.35 WIB

17 Juli 2013

SURGA DALAM BUKU - IRENE FAYE


SURGA DALAM BUKU – IRENE FAYE




Ray menghentikan langkahnya di tengah taman. Benar saja, dia bisa menemukan gadis itu di sana. Yuan Qin Shu, murid baru di kelas Ray yang tampaknya tak bisa lepas dari buku. Bukannya Ray punya masalah dengan hal itu, tapi cara gadis itu memandang bukunya jelas membuatnya selalu mengerutkan dahinya. Gadis itu selalu menatap bukunya dengan sangat antusias seolah buku itu adalah sepiring besar puding coklat. Ray cinta puding coklat.

Seperti biasanya gadis itu duduk di bawah pohon rindang sambil membaca bukunya. Kali ini kelihatannya buku yang dibacanya adalah buku fantasi klasik. Ray mengenali buku itu karena gurunya beberapa waktu lalu menyuruh kelasnya untuk meresensi buku itu. Tugas yang bahkan belum disentuhnya sama sekali.

Ray tak mengerti mengapa gurunya menyuruh mereka untuk membaca buku itu. Buku itu sangat tebal, tidak memiliki gambar dan yang ada disana hanyalah kata-kata. Kata-kata yang dengan melihatnya saja sudah membuat Ray malas. Alasan lain lagi yang membuat Ray tak bisa memahami kecintaan Yuan Qin Shu terhadap buku.

Sambil menenteng bola kakinya di satu tangan anak laki-laki itu berjalan dengan cepat mendekati gadis yang sedari tadi dipandanginya. Berhenti sejenak untuk memikirkan kata-kata apa yang harus diucapkannya, dan akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan bolanya dan kemudian mengambil tempat untuk duduk tak jauh dari gadis itu.

“Apa bagusnya sih buku?” serunya dengan suara lantang. Gadis berwajah oriental itu mengangkat kepalanya sejenak sebelum kemudian mendelik kesal ke arah Ray. Jelas dia tidak suka Ray menganggu kegiatan membacanya.

Sambil menutup bukunya, gadis itu berdiri dari tempatnya dan kemudian berjalan pergi dan duduk di tempat yang sedikit lebih jauh dari tempat Ray duduk. Kembali membaca tanpa menghiraukan pemuda itu. Kali ini giliran Ray yang kesal. Memangnya dia ini parasit yang harus dijauhi apa?

Dengan cepat ia mengambil bolanya dan langsung menghampiri gadis itu. Qin Shu yang tampak terlalu asik dengan bacaannya hanya mengangkat matanya sekilas sebelum menjatuhkannya kembali ke deretan kata-kata yang ada di bukunya. Bertingkah seolah Ray tak pernah ada di hadapannya.

“Jangan pura-pura tidak tahu! Jika ada orang yang berdiri di depanmu seharusnya kamu menanyakan apa yang ia inginkan! Bukannya malah menghiraukannya!!!” gerutu pemuda itu kesal. Qin Shu hanya menghela nafas panjang sebelum kemudian kembali mengangkat matanya hanya untuk memandang Ray dari balik bukunya.

“Apa lagi yang kau inginkan sekarang, Rayburn?” tanya gadis itu sambil menandai halaman terakhir yang dibacanya dengan pembatas buku dan kemudian menutupnya.

“Aku tidak bisa menerima alasanmu menolakku! Mana ada orang yang menolak orang lain dengan alasan bawa ia jatuh cinta dengan buku! Alasan macam apa itu ? Aku tidak terima!” gerutu pemuda itu berapi-api. Qin Shu lagi-lagi menghela nafasnya.

“Apa kamu pernah membaca buku, Rayburn? Membaca tanpa paksaan tentunya. Apa kamu pernah melakukannya?” tanya gadis itu sambil membetulkan posisi kacamatanya. Ray terdiam.

“Cerita yang menggelitik rasa penasaran dalam deretan kata yang tersusun rapi, petualangan-petualangan baru yang tersembunyi di balik setiap halaman, keindahan imajinasi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dan perasaan ini. Surga. Buku jelas menyimpan kedamaian surga di dalamnya. Apa kau pernah merasakannya?” tanya gadis itu lagi. Ray tetap diam seribu bahasa. Qin Shu hanya tersenyum.

“Saat membaca buku, entah bagaimana rasanya kita dibawa untuk mengarungi suatu dunia lain yang tak pernah kita lihat sebelumnya, mengenal dunia itu, mendalaminya, dan mencintainya. Tiba-tiba kita sudah menjadi bagian dari dunia itu dan ikut mencicipi setiap petualangan yang tersimpan di dalamnya. Tak bisa melepaskannya, tak rela melepaskannya, dan rasanya sulit sekali meninggalkannya. Saat itulah kau tahu bahwa kau jatuh cinta dengan buku.”

Gadis itu berdiri dari tempat duduknya, mebersihkan helai-helai rumput yang menempel di roknya sebelum kemudian menatap lurus ke mata Ray sambil tetap tersenyum. Mendekap bukunya dengan erat di dadanya seolah buku itu adalah harta yang paling berharga di hidupnya.

“Aku tidak bisa berpacaran denganmu, Rayburn, karena kau tidak mengerti keindahan dari sebuah buku. Aku bahkan tak pernah melihatmu membaca sebelumnya. Aku takut jika nantinya aku berpacaran denganmu kau akan selalu menuntutku menonton setiap pertandingan bolamu ketimbang menemaniku membaca di perpustakaan. Jadi maaf, sebaiknya kita tetap manjadi teman saja ...” ujarnya singkat seraya melangkah pergi. Meninggalkan Ray yang hanya bisa menatapnya dengan tatapan tak percaya.

†††

Dengan kesal Ray langsung melemparkan bolanya ke pinggir kamar. Gara-gara gadis itu, Yuan Qin Shu, dia jadi tidak bisa menikmati pertandingannya. Tidak, bukan salah Qin Shu, tapi salahnya sendiri. Kenapa pula dia harus menyatakan perasaannya pada gadis itu. Gadis itu hanya seorang kutu buku yang Ray yakin sama sekali tidak mengerti tentang bola.

Sayangnya Yuan Qin Shu sangat mengerti tentang bola. Justru karena hal itulah Ray menyukai gadis itu. Komentar Yuan Qin Shu tentang permainannya yang kritis dan cerdas, membuatnya terpesona pada gadis itu.

Tapi mengapa gadis itu harus jatuh cinta pada buku?! Setumpuk kertas yang dipenuh dengan tulisan yang tidak menarik. Kenapa gadis itu bisa jatuh cinta dengan buku? Ray sama sekali tak bisa memahaminya.

“Saat membaca buku, entah bagaimana rasanya kita dibawa untuk mengarungi suatu dunia lain yang tak pernah kita lihat sebelumnya ...Tiba-tiba kita sudah menjadi bagian dari dunia itu dan ikut mencicipi setiap petualangan yang tersimpan di dalamnya ... Saat itulah kau tahu bahwa kau jatuh cinta dengan buku.”

Kata-kata Qin Shu itu kembali terngiang di telinganya. Dia tak bisa mempercayainya tentu saja, tapi entah mengapa setelah mendengar kata-kata itu, Ray jadi ingin membuktikannya. Dia memiliki tugas untuk meresensi buku yang sama dengan yang sedang dibaca Qin Shu di taman tadi, itu artinya dia bisa mengambil kesempatan ini untuk mencobanya. Mencoba ikut jatuh cinta dengan buku.

Dengan ragu ia meraih buku yang menjadi tugasnya itu dan mulai membaca halaman pertamanya. Kata demi kata mulai membuatnya mengantuk, tapi kemudian saat kata-kata itu membentuk satu kalimat, kemudian menjadi dua kalimat dan akhirnya satu paragraf, Ray tak bisa lagi menghentikan dirinya.

Yuan Qin Shu benar. Cerita yang menggelitik rasa penasaran dalam deretan kata yang tersusun rapi, petualangan-petualangan baru yang tersembunyi di balik setiap halaman, keindahan imajinasi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dan surga. Buku jelas menyimpan kedamaian surga di dalamnya dan dia baru saja jatuh cinta dengan surga itu.

-Fin-

Catatan:
 Cerpen ini saya buat untuk mengikuti lomba cerpen Surgabukuku 1st Birthday Giveaway! yang diadain oleh blog :
http://surgabukuku.wordpress.com. Memang pendek, karena batas maksimalnya adalah 1000 kata, jadi hasilnya memang segini hahaha

18 April 2013

DI TELAN WAKTU

           DI TELAN WAKTU 
 
 
“Jangan nangis, aku bisa tahan dari semua ini! Aku akan selalu ada disamping kamu! Saat kamu butuh aku, maupun saat aku pergi nanti ! percaya sama aku !” celotehnya.
Matahari bersinar terang, menerobos jendela kamar gue. Seperti biasa, gue harus bangun pagi buat berangkat sekolah. Dan ini hari pertama gue sekolah di sekolah baru gue. Nama gue Rina Riyanti, gue sekarang duduk dibangku SMA tepat nya kelas 3.
“Arrrggg, sekolah!! Huft, sekolah baru temen baru !! Gue harus beradaptasi ulang nih sama temen-temen baru !! Kalau iya jadi temen, kalau jadi musuh !?? Tau aah !!”umpat gue dalam hati.
“Ahhhhh, no ! jam setengah tujuh ! mati !”teriak gue sambil melihat kearah jam dinding bergambar bola.
Dengan terburu-buru gue siap-siap berangkat sekolah, kalau telat bisa mati nih. Apa dikata nanti, siswa baru telat sekolah! mau ditaro dimana nih muka.
*TRIINNGGGG
Suara tanda masuk sekolah udah bunyi, pas banget gue udah nyampe didepan gerbang masuk. Terlihat di pintu gerbang ada seorang satpam sekolah berusaha menutup pintu gerbang.
“Eitttsss, tunggu dulu pak !! mau masuk !!” seru gue.
“Udah telat non!! Jam segini kan udah harus ada disekolah ! Eh, tapi bapak belom pernah liat non. Non siswa baru ya ?” tanya satpam itu.
“Hehe, iya pak. Saya siswa baru. Jadi belom tau jadwal disekolah ini jam berapa! Saya Rina Riyanti.”tegas gue sambi memperkenalkan diri.
“Panggil saja bapak, pak Tresno. Ya sudah non masuk !” jawab nya.
“Makasih ya, pak. Saya masuk dulu.”
Kejadian pertama disekolah baru gue, gue dapet keajaiban dan ketemu bapak baik hati.
Tiba waktunya gue pulang, capek banget hari pertama sekolah. Kebiasaan gue kalau lagi ada waktu luang, gue nulis kejadian yang menimpa gue di buku harian gue.
“Dear Diary
Hari ini keberuntungan memihak ke gue, pertama gue telat tapi karena pak Tresno baik hati. Dia bolehin gue masuk J
Kedua, gue dapet temen baik dikelas. Meski gue anak baru, tapi ada juga yang langsung akrab gitu. Untung aja gue bukan manusia anti sosial hahaha
Ketiga, gue ngerasa capek banget. Harus keliling-keliling ngenalin diri. Tapi seru juga sih ! J
Gue harap bukan Cuma buat hari ini, gue ngalamin keajaiban dan keberuntungan.
                                        Rina Riyanti. “
***
Pagi ini gue gak telat lagi bangun  pagi, gue siap-siap buat berangkat sekolah tanpa buru-buru lagi hehehe.
Sesampai disekolah, gue ketemu lagi sama pak Tresno. Gue mencoba menyapa nya.
“Pagi, pak ! bapak udah sarapan belom ?” sapa gue.
“Eh, non. Pagi juga non. Belom non, bapak belom sempet sarapan.”jawabnya.
“Oh, kebetulan pak. Saya bawa bekal dari rumah. Ini buat bapak sarapan. “gue menyodorkan bekal gue.
“Ah, gak usah non. Buat non nanti mana ? mending non makan saja.”tegas pak Tresno.
“Ada kok, pak. Ambil aja, saya ada bekal lebih kok pak ! ambil ya pak. Saya masuk dulu !”jawab gue, dan bergegas kekelas.
“makasih non. “teriak pak Tresno.
Senyum balas gue, dan gue teruskan berjalan kearah kelas.
Saat masuk kelas, terdengar sapa dari temen-temen gue.
“selamat pagi, Rina.”sapa salah satu temen gue.
Gue belom tau pasti siapa nama mereka. Yang gue tau, Cuma temen sebangku gue dan kedua temen yang tepat duduk didepan bangku gue. Temen yang sebangku sama gue nama nya Melly, dan yang dua lagi namanya Reno sama Wini.
Singkat cerita, tiga bulan berlalu. Temen-temen dikelas udah akrab banget sama gue. Ya, meski gue masih malu-malu.
“Rin, lo mau masuk exschool apa ? kan kita wajib punya exchool  !”tanya Melly.
“Ah, gak tau ah. Gue gak terlalu mikirin exchool kok. Santai aja kali.”jawab gue.
“Ah, Mell. Jangan tanya si Rina tentang exchool. Dia kan paling anti banget! Hahaha”seru Reno.
“Eh...ehh.. katanya ada yang naksir Rina loh! Katanya sih anak basket, yang lebih keren nya lagi kapten basket.!”teriak Wini, entah dari mana dia muncul.
“Ah, lo Win. Nyebar-nyebar gosip mulu.”jawab gue sambil cemberut.
Bel waktu pulang sekolah udah bunyi, dan inilah waktu yang gue tunggu-tunggu. Waktu nya pulang. Hahaha. Saat gue jalan kearah pintu gerbang, gue lihat banyak anak cowok. Gue sih gak punya pirasat apa-apa. Gue berjalan melewati mereka dengan dingin, salah satu dari mereka menarik tangan gue.
“Ih, apaan sih lo ? emang gue kenal sama lo apa?”
“Lo kan yang namanya, Rina?”
“Iya, emang kenapa? Udah deh, gue mau pulang.”seru gue sambil berusaha melepaskan gengamannya.
“kenalin, nama gue Damar.”
“Oh, Cuma mau kenalan. Gak usah kayak gini caranya.”jawab gue dingin sambil pergi meninggalkan mereka.
***
Gue menjatuhkan badan gue keatas tempat tidur.  “capek banget hari ini. Mana ada cowok-cowok aneh lagi ! eeeh.”umpat gue dalam hati.
--BEEP BEEP--
Terdengar ringtone Noah dari hp gue, gue ambil hp gue dimeja rias gue. Dengan malas gue angkat telpon, entah dari siapa. Nomber nya pun di private.
--KLIK--
“Hallo”jawab gue dingin.
“Iya. Ini bener nomber nya Rina?”terdengar suara laki-laki dari arah hp.
“Iya, bener. Emang ini siapa ya?”tanya gue.
“Yes, bener bro ini nomber nya Rina.”terdengar suara teriakan nya.
“ini siapa ya ? sorry gue lagi sibuk!”
“eiitts, sombong amat sih nih anak. Gue Damar, yang tadi kenalan sama lo.”
“Oh, dapet dari mana nomber gue ??”tanya gue (lagi).
“dapet dari temen lo. Si Melly, hehe sorry ya gue gak bilang dulu sama lo.”jawabnya sambil tertawa kecil.
“Oh, ok deh gak apa-apa. Udah dulu ya, gue mau istirahat dulu. Nanti deh malem gue telpon balik. Oke?”tegas gue dan mengakhiri pembicaraan.
--KLIK--
Setelah telponan gue berjalan kearah dapur untuk mengambil segelas air, tapi tiba-tiba gue ngerasa pusing banget. “mungkin Cuma pusing kurang tidur !”gumam gue dalam hati. Makin lama, rasanya kepala gue makin pusing. Gue berhenti dulu sebentar dan mengambil obat. Saat gue ngambil obat, tiba-tiba pandangan gue menjadi buyar, kunang-kunang dan gelap.
“Rin, bangun dong Rin. Rina..!”
Terdengar suara salah satu temen gue, Melly. Gue mulai sadar dari pingsan, rasa pusing nya makin menjadi. Gue berkata lirih kepada Melly.
“Mell, gue kenapa ?”
“Rin, lo pingsan. “
“Pingsan ??”
“kata dokter tadi lo kecapean. Jaga kondisi badan lo, gue kan gak mau lo kenapa-napa.”tegas Melly.”
 “Ah, Mell. Lo berlebihan, gue gak akan kenapa-kenapa ko ! janji deh. Eh, iya ngomong-ngomong yang lain pada kemana ?” tanya gue.
“lagi pada nyari makan tuh mereka. Biasalah , Rin.”
“hahah dasar. Ya udah deh, gue istirahat dulu ya. Nanti lo bangunin gue.”
Gue pun tertidur pulas.***
Seperti biasa, gue berangkat kesekolah dan ya belajar.
*TRIIINGGG...TRIINNGG...
“Yeh, istirhat.”gumam gue.
“hahah dasar lo, Rin.”jawab Reno.
“Eh, Rin. Damar manggil lo tuh.”seru salah satu temen gue.
“mau ngapain?”tanya gue.
“gak tau, ya udah. Mending lo samperin gih.”jawab nya sambil melangkah pergi.
Gue ngeliat kearah temen-temen gue, mereka hanya tertawa melihat gue super kebingungan.
“Ya, udah. Samperin gih.”Saran Reno.
Gue langkahin kaki gue, agak sedikit deg deg’an sih. Ngapain juga tuh anak manggil gue. Gue males banget harus ketemu orang aneh kayak dia.
“Hey, Rina.”sapa Damar.
“Ada apa Mar? Kok nyariin gue?”tanya gue.
“Gak ada apa-apa kok. Cuma mau nyapa doang. Hehehe.”jawab nya sambil tertawa kecil.
“Serius gak ada apa-apa? Ya udah deh kalau gak ada apa-apa. Gue masuk dulu ya !”jawab gue sambil membalikkan badan menuju kelas.
“Eh, tunggu Rin.”teriak Damar menarik tangan gue.
“Ada apa lagi Damar?”jawab gue kesal.
“Ke kantin yuk ? gue bayarin deh!”ajak Damar.
“Oke. Tunggu gue bilang dulu sama temen-temen gue.”potong gue.”yu!”sambung gue.
Gue pikir nih anak seru juga, ya emang agak sedikit nyebelin juga sih. Gue ngerasa nyaman kalau dipinggir dia, gak tau kenapa.
“Hey, Rin. Kok ngelamun sih ? kenapa ?”
“Ah gak apa-apa kok, Mar. Gue agak sedikit pusing.”
“Rin, lo gak kenapa-napa kan? Muka lo pucet banget loh Rin !”tanya Damar.
“Gak kok, Mar. Gue engga kenapa-napa.”
Tiba-tiba gak tau dari arah mana Melly dan Wini dateng.
“Rin, lo gak apa-apa kan ?”Tanya Wini.
“Gak, gue gak apa-apa. Gue ke kelas duluan ya.”lirih gue.
Semua kegiatan pembelajaran telah selesai, dan gue mutusin buat pulang cepet hari ini. Gue ngeliat Damar di pintu gerbang. Dia tersenyum sama gue, gue pun balas senyuman nya. Dia nyamperin gue dan mengajak gue ketaman kota buat jalan-jalan. Kenapa engga pikir gue, lumayan ngilangin pikiran tentang pelajaran tadi disekolah.
Saat diperjalanan ketaman, gue gak berhenti jadi korban kejahilan Damar. Dari gue dikejar anjing, ditakut-takutin serangga. Yap, gue paling takut kalau udah liat serangga. Mau itu belalang, kecoa atau apapun itu gue paling takut. Gue gak nyangka ternyata dia pencinta binatang juga.
Udah cukup main-main nya, gue dan Damar pun pulang. Diperjalanan pulang, Damar menceritakkan semua tentang kehidupan dia. Mulai dari orangtua nya yang sering berantem, bokap nya jarang pulang ke rumah, kakak perempuan nya yang selalu kelayapan malem, dan kakak laki-lakinya yang meninggal karena penyakit kanker otak. Miris denger semua cerita tentang keluarga Damar. Gue kasian sama dia, dia kan baik. Tapi kenapa ya, masih aja ada cobaan meninpa dia.
“Memang tuhan itu adil.”serunya.
“Hah? Maksud lo?”
“Iya, tuhan itu adil. Pasti disaat kita lagi seneng, ada waktu nya kita sedih. Meskipun sedih itu dateng saat kita seneng. Berarti tuhan ingin kita tidak terlarut dalam rasa senang.”jawab nya sambil tersenyum pada ku.
“Ternyata, cowok yang gue kira sombong. Bisa ya, ngomong kayak gitu. Gue gak nyangka. Hahaha.”celoteh gue.
“Hahahaa, amsyong banget sih lo !”jawab nya sambil menggelitiki gue.
“Stop, geli hahaha. Ya udah, udah nyampe nih di rumah. Lo mau masuk dulu?”tawar gue.
“gimana ya ? gue ada keperluan, kapan-kapan deh ya gue maen kerumah lo.”
“Ya udah, gak apa-apa. Tapi lo janji, kapan-kapan maen kerumah gue.”
“Iya, pasti gue maen kerumah lo. Ya udah gue pulang ya. Bye cantik .”jawabnya sambil tersenyum.
“Dear Diary
Hari ini gue seneng banget, bisa jalan sama Damar. Kenapa ya saat gue deket sama Damar, jantung gue berdetak kencang banget? Apa ini yang namanya cinta? Aah gak tau pokok nya hari ini gue seneng banget.
Ternyata Damar pria baik, dia juga pencita binatang. Gak nyangka pria yang gue kira sombong karena gelar dia seorang kapten basket, tapi ternyata gak, dia baik banget.
                                        Rina Riyanti.”
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan terlewat penuh canda, tawa dan rasa senang bahagia. Hari-hari gue sekarang rasanya gak sehampa saat gue sendiri, hubungan gue dengan Damar pun semakin dekat. Gue gak berharap Damar jadi pacar gue, udah lebih dari cukup dia jadi temen deket gue. yang selalu ada saat gue seneng, maupun sedih. Melly ternyata udah jadian sama Reno, dan Wini sekarang pindah sekolah.
--BEEP BEEP—
Gue ambil hp gue diatas tempat tidur, terlihat di screen hp gue nama Damar.
--KLIK--
“hallo Damar.”sapa gue.
“hallo juga Rina. Lo lagi sibuk gak?”
“Gak tuh. Kenapa gitu ?”
“Gue mau ngomong sesuatu sama lo, tapi pengen secara langsung. Bisa gak sekarang lo ketaman kota?”
“emang penting banget ya?”
“penting banget, Rin.”
“Ya udah, gue dateng deh. Lo mau tunggu dimana?”
“gue sih langsung di taman.”
“oke deh, gue siap-siap dulu ya.”jawab gue sambil mengakhiri pembicaraan.
Sesampainya ditaman kota, gue nyari-nyari Damar. Udah gue cari kemana-mana tapi gak ada mulu, gue jadi bingung. Tiba-tiba ada seseorang ngasihin kertas dan dia bilang ikutin saran dikertas. Gue sih nurut-nurut aja, gue ikutin saran-saran yang ada dikertas. Dan akhir nya, kertas ini nunjukin suatu tempat yang indah banget, dipohon yang tinggi tertulis nama gue berhiaskan bunga mawar merah, putih dan merah muda. Tiba-tiba Damar muncul dari balik pohon itu, gue kaget banget.
“Damar, apa maksud semua ini ?”
“haha, sorry gue udah bikin lo bingung, ini semua buat lo Rin.”tegas nya sambil melangkah mendekatiku.
“buat gue ?” tanya gue (lagi).
“Iya, Rin. Semua ini buat lo!”jawabnya sambil meraih tangan gue. “Udah 3 bulan kita deket, dan gue ngerasa ini waktu nya gue ngomong ke lo. Lo mau gak jadi pacar gue ? dari pertama ketemu lo, gue udah suka sama lo Rin.”jelas Damar.
“...”gue hanya Cuma bisa diam. Gue sebenernya mau jadi pacar nya tapi..
“kenapa ? lo gak mau ?? oke deh, kayak nya lo bingung. Gini gue punya dua bunga mawar, lo pilih yang mana. Kalau lo pilih yang warna putih berarti lo nolak gue dan jadi temen gue, dan kalau lo pilih bunga yang warna merah ini lo nerima gue. yang mana ?”
Gue bingung banget, gue gak tau harus gimana ? gue gak ngerti kenapa jantung ini berdetak kencang banget. Gue putusin ....
“gue pilih yang ini.”jawab gue sambil mengambil bunga berwarna merah.
Terlihat raut wajah Damar berubah menjadi sangat bahagia, dan dia tersenyum dan meluk gue. Gue seneng banget, akhir nya pangeran yang gue tunggu dateng juga.
Singkat cerita, hubungan gue sama damar baik-baik aja, malah semakin baik. Gak terasa akan 1 tahun hubungan gue dan Damar. Dan tepat pada tanggal 09-07-2013 ini gue anniv dan berbarengan dengan hari kelulusan gue di SMA ini.
2 minggu tanpa kabar dari Damar, gue gak tau sekarang dia dimana. Gue tanyain ketemen-temen deket nya pun mereka gak tau. Gue bingung, gue takut terjadi apa-apa sama Damar.
1 bulan lagi adalah hari kelulusan gue dan juga hari jadi gue yang ke 1 tahun dengan Damar. Tapi gue sampai sekarang engga tau dimana keberadaan Damar. Apakah semua ini hanya drama saja, apakah dia gak pernah menyayangi gue ? Gue mulai putus asa, padahal gue udah nyiapin pesta buat perayaan kelulusan dan hari jadi gue. Tapi gue yakin, semua itu gak akan berjalan dengan lancar.
2 minggu lagi, hari yang dulu gue tunggu-tunggu. Tapi itu Cuma cerita.
--BEEP BEEP--
Dengan malas gue angkat telepon dari Reno.
--KLIK-- 
“Iya, hallo Ren. Ada apa ?”
“Rin, ada yang mau gue omongin sama lu. Lo bisa gak sekarang ketemuan di taman kota?”
“taman kota ?”
Taman kota? Kenapa harus disana. Itu tempat teristimewa buat gue, dimana tempat itu adalah tempat pertama gue main sama Damar, tempat dia nembak gue.
“Rin, kenapa ? gak apa-apakan lo ?”
“Iya, gak apa-apa. Ya udah gue sekarang kesana ya.”
--KLIK--  
Gue bergegas pergi ketaman kota, gue cari-cari Reno gak ada. Gue tunggu diarea duduk, gue nunggu hampir 20 menit lamanya. “udah terlalu lama gue nunggu disini, pulang ah.”gumam gue dalam hati, sambil berajak dari bangku.
“Eh, Rin tunggu. Sorry gue telat.”Teriak Reno.
“Iya, gak apa-apa. Ya udah, apa yang mau lo omongin ?”
“asal janji lo gak akan nangis? “
“nangis kenapa lagi , iya gue gak akan nangis.”
“oke, ada seseorang yang mau ketemu sama lo. Dia temen lama lo katanya.”
“aah males ah, siapa lagi ? gue gak tau ah ? Cuma itu kan, gak ada yang lain?”tanya gue dengan kesal.
“oke deh, gue kasih pilihan. Gue punya dua tangkai bunga, kalau lo pilih yang warna putih berarti  lo gak mau ketemu dia. Dan kalau lu milih warna merah lo mau ketemu dia?”
“apa-apaan sih lo? Gue gak suka cara lo. Cara lo ngingetin gue akan Damar tau gak lo ?”jawab gue marah.
“he-eh, gue tau. Tapi gue juga disuruh pake cara ini. Kalau lo gak mau.”
Gue bingung, di abilang disuruh. Tapikan Cuma 1 orang yang selalu pake cara ini sama gue “DAMAR”.
“oke, gue pilih warna merah !”
“pilihan bagus, besok lo ikut gue ke suatu tempat. Dimana lo bisa ketemu sama orang itu.”jawab Reno, langsung meluk gue .”maafin gue Rin, gue gak tau harus gimana ? gue gak nyangka semua ini bakalan kaya gini. Semoga lo siap dengan semua ini”lanjut nya.
“iih apaan sih Ren, emang kenapa ? lo minta maaf kenapa ?”
“Sorry, lo bakalan tau besok !”jawab Reno sambil pergi ninggalin gue.
Waktu merambat dengan cepat, semalaman gue gak bisa tidur mikirin semua perkataan Reno. Perkataan Reno ngebuat gue inget seseorang, siapa lagi kalau bukan Damar. Orang yang ngebuat hidup gue kali ini bener-bener berwarna, penuh arti, janjinya pun tak pernah ia ingkari, tapi kali ini ia mengingkari janji gue. Dia ninggalin gue sendiri, gue gak ngerti itu semua.
Pagi ini, gak secerah biasanya. Seperti matahari tau apa yang gue rasaain sekarang. Gue siap-siap untuk berangkat ketempat yang udah Reno janjiin.
Gue udah nunggu kira-kira 15 menit, huft gue yakin Reno telat lagi. Bener perkiraan gue, Reno telat lagi.
“Hehe sorry gue telat.”
“lagi.”
“iya,iya gue telat lagi. Ya udah, yu kita berangkat. Dia udah nungguin kita.”
Gue gak tau mau dibawa kemana sama Reno, gue nurut aja. Tapi gue heran kenapa dia ngajak gue ke Rumah Sakit, gue gak ngerti semua ini. Mungkin dia mau ketemu sodaranya. Gue liat didinding Rumah Sakit, banyak gambar tentang penyakit yang menyerang otak. Dan ada penyakit kanker otak, gue penasaran. Gue coba baca dan mungkin ini kejadian yang dialami kakaknya Damar.
“Rin, disini.”
“hah ? loh kok gue ?”tanya gue bingung .
“udah lah gih masuk.”
Gue langkahin kaki gue menuju ruangan khusus dan gue juga disuruh pake baju aneh. Gue buka pintu dan terlihat sosok laki-laki yang seperti nya gue kenal, dia terbujur lemah tak berdaya, dengan banyak kabel dan selang-selang ditubuhnya. Gue mulai mendekati dan sosok itu, iya sosok itu. Itu Damar, apa yang dia lakukan disini. Gue berlari menghampiri Damar yang sedang kritis. Gue menangis terisak dipinggiran tempat tidur pasien, gue gak bisa tahan semua rasa rindu gue sama dia dan semua kejadian ini. Gue memeluk perlahan Damar, tak ada respon sedikitpun, yang terdengar hanya suara mesin pendengar detak jantung yang ada diruangan itu. Gue gak bisa menahan semua rasa sedih yang menimpa gue, orang yang gue sayangin sekarang terbujur lemah dihadapan gue. Tanpa bergerak sedikitpun . Damar apa yang terjadi sama kamu, jangan tinggalin aku Damar. Kamu satu-satunya orang yang bisa bikin aku jatuh cinta dan bikin aku sadar kalau dunia itu indah apabila ada kamu.
“Damarr..... kamu kenapa Damarr.... Damar bangun Damar. Kamu ngingkarin janji kamu, kamu gak boleh ninggalin aku Damar. Kamu harus kuat Damar. Damar... kamu bohong Damar.... please Damar bangun, Damar...”
“ya tuhan ... kenapa semua ini menimpa ku, dia orang yang aku sayang. Aku gak tega ngeliat dia disini ya tuhan.”
Tiba-tiba seorang dokter masuk keruangan Damar, dan minta ke gue untuk menemuinya di ruang dokter.
“Apakah kamu tau apa penyakit yang diderita Damar ?”
“Gak dok, saya gak ngerti apa penyakit Damar.”
“Maaf sebelum nya, dengan terpaksa saya harus mengatakan ini. Sodara Damar mengidap penyakit kanker otak, dan tinggal hitungan hari dia bisa bertahan. Saya harap kamu kuat menghadapi semua ini.”
“Dok, apa dokter bisa nyembuhin Damar. Dokter kan sudah ahli dalam bilang kedokteraan seperti ini, tolong selamatkan Damar dok, jangan buat dia pergi dok.”jawab ku sambil menangis.
Tak terasa, air mata gue terus mengalir, gue gak percaya semua ini. Gue gak percaya kalau Damar sakit. Gue gak percaya, dia sosok yang kuat, dia gak bakalan kena kanker otak. Apakah hari ini atau esok gue terakhir ngeliat dia. Gue gak mau kehilangan orang yang gue sayangin lagi.
Gue gak kuat untuk ngelangkahin kaki ke ruangan Damar, gue gak mau kalau dia harus ngeliat gue nangis karena takut kehilangan dia.
“Sayang, aku tau kamu pasti kuat ngadepin penyakit kamu. Aku yakin kamu pasti bertahan, Damar.. aku mohon jangan tinggalin aku lagi Damar, udah cukup ngerasain kehilangan kamu. Oh, iya sayang 2 hari lagi, hari kita anniv 1 tahun. Kamu inget kan !”
Tak terasa air mata gue, mengalir dari sudur mata gue. Damarr bangunn...
Terdengar lirih suara Damar.
“Rin...”
“Damar.. kamu sadar. Aku panggilin dokterya.”
“Gak, Rin. Gak usah.”
“ta...tapi”
“udah gak apa-apa ko. Aku kangen banget sama kamu Rin. Kita udah lama gak ketemu, eh iya 2 hari lagi hari anniv 1 tahun kita ya ?”
“aku juga kangen banget sama kamu, iya. Ternyata kamu masih inget.”jawab ku sambil meneteskan air mata.
“sttt jangan nangis sayang, aku gak kenapa-kenapa kok, aku baik-baik aja.”jawabnya sambil membenarkan posisi duduk dengan bersandarkan bantal.”sini deh, aku pengen meluk kamu, mungkin ini pelukan terakhir aku buat kamu. Dokter memperkirakan umur aku tinggal hitungan hari kan ??”
“aku gak suka kamu ngomong kaya gitu, aku gak suka. Kamu pasti kuat sayang, kamu pasti kuat ngelawan penyakit ini. Aku yakin !! kamu orang terkuat yang aku kenal. Damar kadang-kadang perkiraan itu salah. Dan mungkin perkataan dokter itu salah.”
“hahaha, sayang sayang. Iya gak lah, masa iya aku bakalan ninggalin kamu. aku kan udah janji sama kamu, aku gak akan ninggalin kamu.”
“sayang jangan tinggalin aku ya, janji ?”
“janji!”
“Ya udah kamu istirahat ya, aku bakalan ada disamping kamu kok !!!”
“janji ya, jangan kemana-mana ?”
“he-eh.”
Seneng nya, gue masih bisa liat dia senyum. Ya tuhan tolong selamatkan Damar ya tuhan.
Semaleman gue tidur dipinggir Damar, aku tau suatu hari nanti gue ataupun Damar akan pergi kembali kepada sang pencipta.
“Rin, bangun!! Udah siang loh.”
“eehhm, eh Damar udah bangun.”
“Aku pengen keluar, please. Aku bosen disini, bosen harus pake yang beginian.”seru Damar sambil menunjuk kearah kabel dan selang-selang.
“sayang, kamu lagi sakit. Gak boleh keluar dulu. Eh iya, besok kan hari anniv kita, kamu pengen apa dari aku ?”
“aku pengen keluar dari sini, dan pengen ke taman kota tempat aku sama kamu dulu.”
“jangan sekarang ya, sekarang hujan. Besok ya ?”
“iya udah, besok harus jadi !”
“iya.”
“Rin, aku mau minta ma....”
“mau minta apa? Damar ?? kamu mau minta apa Damar ? Damar bangun.. Damarrr.. bangun.”
Gue berlari memanggil dokter, kanker semakin menggerogoti otak Damar. Keadaan nya pun semakin melemah, Keadaan nya kembali kritis, tapi akhirnya dokter bisa ngendaliin kondisi Damar.
Gue udah bingung harus gimana, besok adalah hari kelulusan gue dan hari anniv gue. Gue bakalan absen besok dihari kelulusan gue dan diwakili oleh kedua temen gue, Damar pun sama. Gue bakalan seharian penuh sama Damar. Nemenin dia, gue berusaha selalu ada buat dia.
Terasa begitu cepat jam berjalan, tak terasa hari sudah larut malam. Gue gak mau hari esok, gue mau hari dimana gue bersama Damar, bersama bahagia, bersama dalam senang. Tak ada kata perpisahan. Tapi tuhan berkehendak lain.
Matahari bersinar terang pagi ini dan hujan menetes dari langit, gue harap hari ini akan lebih terang dari cahaya matahari hari ini.
“Damar... happy anniv 1 years !!”teriak ku.
“uuh, masih pagi juga. Hahah iya sayang. happy anniv 1 years.”
“Taraaa...aaaa, ini buat kamu. Kamu pengen ini kan. Ini bola basket yang kamu mau. Aku ngabulin permintaan kamu.”
“hahah makasih ya, malaikat ku. Makasih banget. Tapi ada satu hal yang aku mau !! apa kamu bakal ngabulin ini juga ?”
“apaan ? aku bakalan ngabulin semua permintaan kamu. apaan ?”
“aku mau ke taman kota, tepat di tempat saat aku nembak kamu!!”
“tapi kan, ini hujan loh, Mar. Besok aja ya?”
“kamu udah janji kan ? gimana kalau ini permintaan terakhir aku. Please kali ini aja !!”
“tapi... ya udah aku minta ijin ke...”
“gak, gak usah minta ijin. Ya aku pengen kesana !”
“iya, iya. Tapi jangan sekarang, nunggu ujan reda ya sayang.”
Air mata gue pun mengalir tanpa sadar.
“Jangan nangis, aku bisa tahan dari semua ini! aku akan selalu ada disamping kamu! Saat kamu butuh aku , maupun saat aku pergi nanti ! percaya sama aku !” celoteh nya.
Kenapa waktu selalu berubah dengan cepat saat gue gak mau itu terjadi. Hujan turun semakin deras, gue harus gimana. Gue gak mungkin bawa keluar Damar dengan keadaan seperti ini.
“Rina, aku pengen pergi sekarang. Aku pengen pergi sekarang.”
“Damar, ini tengah malem. Diluar masih hujan ! kamu nurut dong sama aku kali ini aja. Aku mohon!”
“gak Rin. Aku pengen ke taman kota.”
Gue gak bisa maksain kehendak gue, gue turutin kemauan Damar. Akhirnya sampai di taman kota, terlihat dari jendela mobil, pohon yang jadi saksi dan tanda cinta gue sama Damar.
Damar turun dengan menggunakan kursi roda yang gue dorong, dan gue berusaha untuk ngelindungin dia dari hujan yang tepat mengarah pada gue dan Damar dengan payung hitam.
“Sampai juga dipohon ini, aku kangen tempat ini!!”
“aku juga kangen, Mar. Tempat ini saksi dan bukti tanda cinta aku sama kamu.” sambil memeluk Damar dari belakang.
“tempat ini, pohon ini jadi saksi dimana kita dipersatukan dan terakhir....”
“dan apa ?? Damar... Damarrr...”
Tubuh Damar menggigil kedinginan, ku berusaha menghangatkan tubuhnya dengan pelukkan ku. Tapi tuhan berkehendak lain. Tangan Damar, dingin membeku. Wajahnya berubah menjadi pucat.
“Damar... aku mohon Damar... kamu jangan tinggalin aku Damar. Kamu udah janji sama aku Damar. Kamu gak akan tinggalin aku. Tolong .... tolongg.....” teriak ku.
“Rin, a-ku sa-sa-yang sama ka-mu, tempat ini, pohon ini ja-di saksi kita dipersatukan dan dipisahkan, aku sayang sama ka-mu Ri-na Ri-riyanti. Aku bakalan lindungin kamu.  kamu jangan pernah nangis ya, maaf kali ini aku harus ingkarin janji aku. Ashaduala’ilahaillolloh wa..wwaa’ashaduana muhammadarossululloh!”
“DAMARRRRR..... aku juga sayang sama kamu. DAMAR jangan tinggalin aku Damarrrr..... damar.... ya tuhan jangan ambil nyawa nya ya Tuhan... ya tuhan tolong ya tuhan, DAMAAAAARRRRRR !! Damarr kamu gak boleh pergi DAMARRRRRRRR.....”
“Dear Diary
Tepat pukul 00.00, dihari anniv gue dengan Damar. Damar ninggalin gue, hari terakhir gue lihat senyum nya. Gue tau, dia udah pergi tapi dia tetep hidup dihati gue. hanya jiwa nya yang pergi, tak dengan hati nya. Hanya kenangan yang dia tinggalkan bersama gue, bunga mawar merah pemberiannya cincin tanda cinta antara gue dan Damar, dan rasa sayang yang membekas dihati gue. Gue tau Damar disana hidup bahagia di sisimu Tuhan.
Tuhan tolong jaga dia untuk ku, aku tau dia disana bersama mu bahagia. Tempatkan lah dia ditempat yang paling mulia. Dan tolong sampaikan padanya, aku disini selalu mencintainya.
Damar selalu ada dihatiku.
Diary Terakhirku..


END